Pukul tiga buta dihari Kamis ini, gue
terbangun dan gak bisa tidur lagi.
Pikiran gue tertuju dengan “apa
yang semestinya gue lakukan
sebagai first impression disekolah,
kawan dan lingkungan yang baru”
Mengambil handuk, mencoba mandi dihawa sedingin ini. Cukup lama gue
mandi, karena air dibak yang tidak mencukupi kebutuhan air gue seperti biasanya. Mau gak mau gue harus menadahkan gayung tepat dibawah kran air.
Menunggu air yang kadang
keluar begitu deras, kadang sebaliknya. Bila gayung terasa sudah mulai berat,
gue segera mengguyur seluruh badan dengan air tadahan tadi. Begitu seterusnya hingga gue lelah menandakan gue selesai
mandi.
Gue berinisiatif membuat sarapan untuk diri gue sendiri.
Keadaan yang masih gelap dan hawa dingin disekitar, seketika buat gue malas
melakukannya. Terbaring lagi gue dikasur, dengan seragam batik yang sudah
terpakai rapih.
Gue
stalk twitter milik cewek yang puja-puja semasa menegah
pertama dulu, Anggi.
Beberapa quotes yang dia re-tweet, sering menggambarkan
apa yang sekarang dia rasakan dan alami. Gue telusuri satu persatu dan ada salah
satu quote yang menarik perhatian
gue…
“If words left physical scars, would people
be more careful with what they say?”
“Bila kata-kata meninggalkan luka yang
tampak, akankah orang lebih berhati-hati dengan apa yang mereka katakan?” Hmm… jelas. Dia lagi sakit hati karena lisan insan lain. Dulu, kalau dia tweet atau re-tweet dengan model “galau” seperti tadi, suka
gue reply dengan,”Lo kenapa,
Nggi?”. Yang pada akhirnya selalu dijawab dengan satu kalimat, sejuta arti,”Gue
gapapa.”
Anggi adalah tipe cewek yang gue
idam-idamkan, dulu. Kalimat-kalimat konyol yang selalu dia keluarkan saat kita bersama, buat gue ingin
dekat terus dengannya, selalu nyaman bila bertatap
muka dengannya.
Cantik.
Ya, dia sangat cantik, apalagi dengan senyum khasnya, senyum lebar terbuka.
Matanya yang menyipit dikala
tersenyum adalah bukti
bahwa senyum itu pure tanda dia
senang, bukan senyum palsu yang selalu gue liat selama ini didunia luar. Dan
Anggi, bukan salah satu pengguna fake
smile, seingat gue.
Semua khayalan gue tadi terasa sia-sia
saat gue tiba-tiba
teringat bahwa dia sempat berpacaran bersama cowok yang
lebih berani mengutarakan rasa terhadapnya dulu semasa SMP. Gue “yang hanya sebatas” teman
dengannya, merasa kalau gue
lebih layak bersamanya dibandingkan si cowok tadi, sebut saja dia Budi.
Budi setahu gue dekat dengannya hanya
sebentar saja, tiba-tiba bisa jadian. Ya jelas, Budi memiliki
apa yang gue gak pernah punya, yaitu segala-galanya. Beberapa kejadian yang
menyayat hati selalu tampak didepan gue. Iya, selalu.
Kenapa
mereka gak main dibelakang gue aja? Agar
sakit yang gue rasakan gak
sepedih yang selalu gue lhiat.
Seperti di jam istirahat, mereka ke kantin bersama, membeli makan bersama,
memilih meja yang sama dengan posisi yang hampir setiap hari gue gak sengaja lihat, yaitu
sebelah-sebelahan.
Tangan
Budi yang kegatalan,
sering coba buat rangkul Anggi dimanapun, kapanpun, didepan siapapun. Risih dan gak
terima karena cemburu
adalah hal yang sering gue rasakan. Walaupun kami memang masih jalin
komunikasi seperti biasanya saat itu, tetap aja ada rasa yang berbeda. Kedekatan kita masih
ada, tapi gue gak bisa ngerasainnya. Beda aja.
Pikiran
gue tentang Anggi dan Budi tadi gue buang jauh-jauh. Gue coba untuk menghiraukan quote dia tadi. Gue pasang earphone,
klik mode shuffle-play dan keluarlah…
“Someone Like You – Adele”.
Denting
piano dan lirik yang menghujam tepat dibagian hati yang gak sengaja terluka dengan
lancar gue ikuti untuk dinyanyikan. Belum habis lagu tadi, gue tertidur dengan earphone yang masih menyangkut ditelinga.
Alarm
gue berbunyi begitu kencang lewat earphone.
Gue terbangun kaget. Waktunya gue sekolah. Ngojek. Iya, ngojek. Gue masih belum
dibolehin membawa motor
ketempat yang baru gue kenal.
Nyokap
takut terjadi apa-apa. Gak
sempat sarapan, Nyokap membawakan gue bekal
yang berisi sarapan yang harusnya gue makan terlebih dahulu, roti tawar dengan
segala olesan selai.
MOS yang diadakan
beberapa hari lalu menandakan
bahwa hari ini adalah hari pertama gue belajar di SMA. Seketika gue
sedih di jok belakang motor ojek. Waktu liburan yang gue kira bakal kekal
abadi, dicabut begitu saja masa
berlakunya oleh setumpuk tugas-tugas yang akan mendadak datang menyerbu dikemudian
hari.
Di
kesedihan yang tadi gue rasakan di jok belakang, gue makan roti sebagai peredam emosi. Sambil makan dan kemudian gue
berpikir…
”Ini adalah masa dimana gue menginjak masa yang mungkin
akan berjalan seru bila diceritakan kembali, suatu saat nanti.”
***
Gue
masuk kelas dengan keadaan yang tidak begitu sepi, maupun sebaliknya. Gue
mencari ancang-ancang untuk duduk sendiri dulu. Melihat seluruh sisi kelas, dan ada satu spot bangku
belakang yang belum ditempati siapapun. Sengaja gue pilih duduk dibagian itu, agar gue gak kurang pergaulan.
Setelah
duduk, gue mengambil hape
didalam tas. Tangan gue kegatalan, sengaja membuka twitter
account Anggi, untuk memastikan bawa dia baik-baik saja didunia maya. Gue
tidak melihat tanda-tanda update-an dia.
Gue merasa kosong. Biasanya tweet
apapun dari dia adalah media penghibur gue.
Kantuk yang datang karena
kehampaan lingkungan
sekitar, buat gue ingin memejamkan mata untuk beberapa menit. Duduk diam sembari melihat
beberapa bangku yang kosong didepan adalah momen yang pas buat gue untuk tertidur kembali
dikelas yang sepi sunyi ini. Gue pun menyilakan tangan, lalu tertunduk kantuk.
Dan tiba-tiba..
“Mmmm... disini kosong gak?” cetus kalimat
seorang siswa yang sedikit buat gue terkaget. Gue gak menoleh buat melihat
mukanya…
“Iya… sebelah gue kosong kok.” Ucap
gue sambil menunduk hingga
tidak menghiraukannya lagi. Tapi itulah yang gue ucap sebagai perkenalan
pertama. Tapi, dengan tekad gue yang mengatakan bahwa gue mesti punya
first impression yang baik, akhirnya gue bangun…
“Nama gue Gilang, gue duduk sini
ya.” kata dia.
“Gue Nico, yaudah lo duduk disini
aja.” pede gue yang masih enggan
melihat muka dia untuk pertama kalinya. Gue sedikit risih dengan kehadiran dia,
yang duduk disamping gue. Padahal bangku
didepan masih banyak yang kosong, tapi dia lebih memilih untuk duduk paling
belakang yang memang, slot bangku belakang hanya tinggal disamping gue.
“Di MOS kemaren, lo kelas berapa?” tanya gue, sok kepo.
“Kelas
sebelah, lo?” jawab dia sambil nanya balik.
“Disebelahnya
lagi.” jawab gue. Hening beberapa saat lalu dia melanjutkan..
“Lo dari
SMP mana?”
“Gue
dari SMP sebelah, lo?”
“Sebelahnya
lagi.” Disitu gue
berpikir kalau Gilang orangnya asik. Risih yang selama ini gue pendam kepadanya, berubah gitu aja. Asik
aja. Kita semakin akrab, semakin cepat kenal satu sama lain,
lebih dalam lagi. Gak kerasa gue sama Gilang udah ngobrol dan makan waktu yang
cukup lama sampai-sampai
bel pun berbunyi
Pelajaran
hari pertama adalah Bahasa Indonesia. Mestinya, guru masuk untuk megajar pagi ini.
Namun, apalah yang kita tunggu, kelas menjadi pelajaran kosong untuk pertama
kali. Suasana yang pas untuk bercengkrama dengan dunia sekitar. Namun, gue
yang tengah asyik ngobrol sama Gilang, dipotong begitu saja…
“WOY, NAMA GUE MALIQ, SALAM KENAL
YAK!!” teriak anak yang duduk didepan kita. Gilang kaget bukan kepalang. Dia pun langsung mengeluarkan brass-knuckle sepeninggalan kakeknya, bersiap untuk
menyerang. Gue pun menahan dia untuk melakukan tindakan tercela dadakan.
“Nama gue Gilang, Liq. Santai, kita
gak ngatain kalo arab
itu kaum minoritas disini…”
“Nama gue Nico, bang.” sahut gue.
“Gue Maliq.” jawab dia santai.
“Lu dari mana, Liq?” tanya Gilang ngelantur. Padahal
daritadi Maliq cuman duduk didepan kita.
“Gue daritadi disini
ngeliat lo berdua, ngobrol gajelas hahaha.” canda dia.
“Lo yang gak jelas!” balas Gilang
sewot.
“Bapak lo yang gajelas!” balas
Maliq.
“Lebih jelasan bapak gue daripada
bapak lo!!” balas Gilang. Permainan “katain bapak” tadi buat gue rada risih buat
dengerin mereka, apalagi ikutan. Kan kasihan, orangnya gak ada, dikatain
gak jelas. Bersin-bersinlah bapak kedua anak tadi di kantornya masing-masing.
Ya, Maliq adalah “anak arab” yang
duduk didepan gue dan Gilang. Gak puas dengan hanya kenal mereka, gue mencari
lagi teman-teman yang mau berteman sama gue. Semua murid cowok yang ada
dikelas, gue libas habis dengan menjadikan mereka sebagai kenalan baru. Respon
positif mereka yang mau menerima dunia luar, buat gue gampang kenal dan akrab
dengan mereka.
Urusan
murid perempuan, cuman beberapa aja yang gue kenal. Itu juga yang bagian yang
duduk belakang aja. Karena gue lihat, mereka semua asyik dengan buku pelajaran
yang baru nanti mereka pelajari. Tekad first impression
gue masih terlalu kuat dibandingkan rasa malas gue untuk kenal mereka. Pada
akhirnya, gue kenal baik dengan seluruh murid dalam kelas.
***
Beberapa minggu kemudian, keseruan yang gue alami sama Gilang semakin berkurang karena
Gilang tiba-tiba punya
pacar. Gabisa gue tutupin ke-jealous-an
gue karena setiap kita ngobrol, dia masih bisa sempatin waktu untuk bales chat pacarnya. Saat itu juga gue basa-basi nanya…
“Chat dari siapa tuh?” tanya gue.
“Masa lo gak tau, Nic?”
“Gak tau apa?”
“Dari pacar gue…” jawab dia sambil
senyum-senyum.
“Emang lo punya pacar?”
“IYALAH!” Ucap dia
sombong. Dan gue dengan
jujur mengatakan kepadanya…
“Lang, gua juga mau kali punya pacar
kaya lo.” jawab
gue.
“Lo maunya yang kaya gimana, Nic? Gue ada banyak nih hahahah.” Kata
dia sambil menunjukkan contact BBM yang ada di hapenya. Gue memang sempet lihat-lihat beberapa account teman-temannya.
“Selera kita beda kayanya, Lang.
gimana kalo lo bantuin gue deketin temen SMP gue dulu?” kata gue.
“Iya.. iya…” kata dia sambil asyik
main hape.
Karena gue tau kalau bantuan Gilang
hanya sebatas omongan, gue minta bantuan ke teman masa kecil gue, Ipan, untuk membantu
gue menjalin hubungan yang belum lama ini terabaikan begitu saja. Malam dihari itu juga gue ke
kost-nya.
“Pan,
keluar buru, PENTING!!!” chat gue ke dia.
“Apaan
nih? Lo tinggal
masuk aja sih!” balesnya.
“GIMANA
MAU MASUK KALO PINTU INI LO KUNCI, BODOH!”
“Emang
iya gue kunci?”
“TAU.”
“Elaaaaah,
yaudah lo tunggu
sebentar ya, gue lagi mandi.”
Seketika
gue mikir. Dia mandi sambil main hape. Yaudah. Terserah dia. Chat kita cuma gue read saat
itu sambil duduk dibawah pohon rindang tepat didepan kostnya. Sambil nunggu dia selesai mandi, gue
pasang earphone sambil dengerin lagu.
Ditengah-tengah lagu, bunyi notif chat gue dari Ipan..
“Nic,
kok cuman diread?”
“Nic…”
“Nic…”
“Nic…
gue mau nanya dong…”
“Kalo
mandi, enaknya nyanyiin lagu siapa ya?” bunyinya.
“GATAU.”
“BODO
AMAT.”
“TERSERAH
LO AJA.” bales
gue.
“Yee
yaudah deh gue mandi gak sambil nyanyi.”
Chat
lagi-lagi gue read. Isinya gak penting, dibalas pun percuma. Emosi gue yang tadinya
stabil karena lagu yang
asik, jadi berantakan gara-gara manusia yang lagi mandi sambil main hape yang
kepengen nyanyi tapi gatau mau nyanyi lagunya siapa.
Gak
kerasa lagu yang sama gue
puter tiga kali, Ipan pun keluar kostnya, menyuruh gue untuk masuk kedalam.
Ipan menyuruh gue duduk langsung dengan teh hangat tepat berada di meja bersama
satu teko besar untuk re-fill.
“Ada apa
gerangan neh? Gak biasanya lo kesini malem-malem gini. Besok juga lo masih sekolah. Lo gak
dimarahin pas balik nanti?” tanyanya.
“Disini
kok hawanya negatif ya?” canda gue
saat menengok dia.
“Iyalah
karena disini ada gue, bahan cengan lo setiap saat. Lo seneng sekarang?” kata dia. Kalimat aneh yang dia
keluarin saat itu seketika gue refleks dengan santai..
“IYALAAAAAHH!”
kata gue dengan penuh kebahagiaan. Setelah itu, gue cicip teh yang ternyata masih panas dan rasanya
tawar. Rasa yang aneh
untuk dijadikan teh, menurut gue.
Sedikit
tentang Ipan, dia adalah pemuda yang dengan berani menyatakan langsung apa yang
dia rasakan terhadap perempuan yang dia suka, bahkan baru kenal sekalipun. Tapi, nyali beraninya dia
gak sejalan sama jawaban dari beberapa perempuan yang kadang “nyelekit kalo
diucap, apalagi kalo didepan
umum.” Gue memberanikan diri untuk membuka pembicaraan kembali..
“Pan,
gue kesini mau…”
“OKE GUE
AKAN BANTU LO
BROOOO!!!” potong dia.
“Gue tau, lo pasti mau nanya
tentang cewe kan?” lanjut dia.
“Mmmm… ya, Pan. Gue
mau nembak nih tapi lewat call aja
karena dia temen SMP gue.” kata gue.
“Di
pedekate-in dulu aja Nic, lo buru-buru amat sih.” balesnya.
“Udah…
tapi waktu SMP dan setelah lulus kita gak pernah chat lagi. Dan dia juga baru putus sama
pacarnya..”
“Emangnya lo gak takut ntar kalo dia
nolak lo karena masih gak bisa move on dari mantannya?”
“Enggak.”
“Beda
SMA sekarang sama lo?” tanya
dia.
“Beda.”
jawab gue.
“Dulu
gue pernah buat puisi buat nembak cewe yang gue suka. Trus gue bacain pas gue nembak
dia…” Ipan bilang.
“Trus?”
“Cewenya
langsung masuk ICU.” jelasnya. Disitu
gue kaget karena
mendengar kalimat yang barusan keluar. Bener-bener bisa bikin ketawa.
Sebenernya gue pengen ketawa, tapi raut muka Ipan memberi tahu kalau itu mungkin beneran kejadian. Disitu gue tahan
ketawa gue dengan senyum kecil.
“Pan,
trus gimana nih buat nyatainnya?” kata gue.
“Mending
pake puisi gue aja, tinggal baca abis itu nyatainnya lewat call seperti yang lo maksud.” kata Ipan.
“Kalo
gue baca puisi lu itu, si Anggi bakal masuk ICU gak?” canda gue.
“Pasti!
Biar bisa temenan sama mantan gebetan gue disana.” bales dia. Disini gue nelen
ludah, takut beneran kejadian sama anak orang secara gak sengaja.
“Yaudah
deh, gue ambil dulu puisinya, Nic.” Ipan langsung pergi, membuka lemari buat
nyari puisinya. Kepergiannya tadi berikan gue waktu untuk menaruh teh tawar
dicangkir yang gue minum, masuk kedalam teko. Satu cangkir penuh, biar
kelihatan habis. Lalu dia datang membawakan bingkai foto yang isinya itu puisi
buat mantan gebetannya dulu.
“Ini
puisi… kayaknya spesial banget ya… dibingkai gini..” kaget gue.
“Hehehehehehehe….”
ketawanya.
“Loh lo doyan apa gimana? Cepet
banget habisnya itu teh.” lanjut dia sambil mengangkat teko re-fill.
“MAKASIH-MAKASIH, PAN. GUE BISA AMBIL
SENDIRI KOK, JANGAN YA… JANGAN..” kata gue panik. Ipan pun melihat gue aneh.
Gue cuman bisa buang muka, sambil melihat puisi berbingkai yang dia taruh di
meja tadi.
Puisi
yang dia bingkai rapih itu terlihat kusam. Karena terlalu lama disimpan, menimbulkan debu-debu bekas jaman
kolonial. Puisi didalamnya sengaja
gue keluarin dari bingkai dan ternyata… ada foto dia bersama cewek yang mungkin adalah mantan
gebetan yang tadi dia ceritakan terpampang yang sebelumnya tertutup oleh puisi. Dua murid berseragam putih-biru, sedang tersenyum menghadap
kamera handphone hasil selfie.
Setelah gue telaah jauh, gue sadar ini adalah foto editan yang nyaris gak ada
sempurnanya sama sekali.
Gue
ketawa kecil disitu. Gue liat kearah Ipan, dia pun senyum-senyum malu. Agak
mubazir gue luangkan waktu gue untuk melihat senyumnya tadi. Dipikiran gue itu adalah, ini foto si
mantan gebetannya yang selfie sama teman lelakinya dia, yang lalu Ipan temukan
di jejaring sosial, dia edit muka cowok tadi yang diganti dengan muka dia sendiri. Agak
miris sih, cuman ya gitu lah.
“Kenapa
lo liatin
terus-terusan foto itu, Nic? Lo iri sama gue?”
tanya dia.
“Iya gue
iri banget sama lo.
Banget-bangetan.” jawab gue penuh iba.
“Hahaa..
ya udah mestinya lo iri
sama gue dan dia.” balesnya. Sombongnya dia yang gak ketulung tadi, bikin gue
iseng nanya…
“Ini
foto hasil jepret kapan, Pan?
“Foto
ini.... gue lupa.. hee..” jawab dia. Karena gue tau dia bohong, gue hanya
tersenyum biar suasana gak canggung. Puisi yang gue keluarin tadi gue bersihkan pake tissue
beserta bingkai dan foto hasil editan tadi. Gue terpaku saat baca itu puisi,
bener-bener bikin cewek masuk
ICU.
“Nah
nanti lo bacain
deh itu puisi sambil telponan, heheee...” cetus Ipan bahagia. Gue merasa gue
bakal dikerjai habis-habisan tanpa sengaja olehnya. Tapi, dengan hati yang kuat
untuk menyatakan perasaan yang sudah lama terpendam, gue beranikan diri
walaupun sedikit gemetar ditambah tawaan geli yang ditunjukkan Ipan yang
sungguh mengganggu.
“Lo masih punya
nomor telponnya kan, Nic?” tanya Ipan.
“Ada dong.....” jawab
gue.
“Oke,
telpon aja sekarang si Anggi.” balasnya.
Ipan
seakan-akan gak tau kalo pengecutnya gue dibagian menyatakan perasaan. Tangan
gue mendadak dingin, 100% belum siap. Gue
membuka contact dengan nama Anggi dipaling atas barisan A. Tombol call hijau
pun terpencet dengan harapan Anggi tidak menjawabnya dengan alasan apapun. Ipan
minta agar call kita dibuat loudspeaker. Gue pun mengiyakan dengan berat hati.
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Halo?...”Jawab
Anggi.
“Emm ini
siapa ya?” tanya dia. Gue bener-bener gak berani menjawab pertanyaan “ini siapa ya?” versi
Anggi tadi. Entah kenapa gue senang mendengar kembali suaranya walaupun jarak
jauh.
“Haloooo?.....”
kata Anggi. Ipan yang menyaksikan gue disamping merasa geregetan karena gue
yang gak membalas jawaban dari Anggi.
Sambungan telpon pun ditutup oleh Anggi tanpa sebab.
“Lo tuh gimana sih,
Nic?” Ipan kesal.
“Lo sendiri yang
minta buat nyatain, tapi lo juga yang takut buat nyatainnya. Gimana sih.
Payah.” omel Ipan. Ipan emang ada benernya. Gue musti berani.
Ipan yang kesal
dengan perlakuan gue, membuat gue ingin menebus dosa tadi dengan cara mengulang
kembali call tadi. Contact Anggi yang lengkap dengan email,
alamat rumah, hingga foto hasil selfie dirinya yang gue pasang sebagai contact picture yang ada di hape gue itu membuat gue
langsung cepat-cepat menekan tombol call tadi. Loudspeaker gue aktifin lagi.
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Halo?
Ini siapa ya? Kok tadi di tanyain, gak disautin?” tanya dia.
“Eeeehh...
Hallo.. Anggi.. ini Nico.. lo masih kenal kan sama gue?” jawab gue.
“Nico?
Yang kita pernah sekelas waktu kelas 8.2 itu kan? Yang pernah pernah nangis
gara-gara diledekin satu kelas cuman karena bekelnya diabisin si Jo? Hahahahaa…
inget-inget itu tuh lucu banget lo-nya, kenapa lu itu harus nangis. Mestinya lo tinggal minta
ganti sama Jo pake jajanan dikantin kan selesai hahahaha!!!” jawab dia panjang
sambil cerita agak panjang
tadi. Ya bener, yang diomongin sama dia gak ada yang salah, sama sekali. Dulu
gue emang cengeng abis. Gamau canggung karena malu, gue lanjutin..
“Heee..
lucu ya.. lo detail
abis sampe gue dikasih solusi yang harusnya dari kapan tau gue lakuin.” jawab
gue, bawa suasana dengan santai.
“Eh
tumben banget loh lo telpon,
ada apa nih??” tanya dia. “TUMBEN BANGET LOH LO NELPON”,”ADA APA NIH”. Kalimat ini
terus terngiang gitu aja dikepala
gue. Gak tau
kenapa gue senang dengar dia ngucap
kalimat tadi. Rasanya, gue memang
ditunggu-tunggu olehnya.
Tapi
dengan kalimat itu juga buat gue berpikir, apakah memang langsung to the point buat nyatainnya? Apakah
gabisa gue buat basa-basi dulu sebagai pencair suasana yang ada ini? Bingung gue sejenak. Ipan
yang disamping gue cuman senyum-senyum aneh melihat gue yang kayanya malu-malu
buat ngejawab, padahal via hape.
Sekejap
pembicaraan kita dialihkan olehnya dengan flashback
yang dilontarkan olehnya. Masa-masa SMP yang terjadi saat kita sekelas
selalu menjadi topik pembicaraan yang asik untuk diikuti alurnya. Gue tertawa,
dia pun demikian. Bahagia sesaat gue itu pun semakin lengkap dengan
mendengarkan tawa dan
canda dia walaupun sekali lagi, lewat hape. Mungkin memang waktu “basa-basi”
yang terlalu lama menurut Ipan, dia pun berbisik ke gue…
“Nic, lo kelamaan.
Cepetan bilang gih. Ini puisi gue yang pegangin, cepet baca!!” grutunya. Ipan
sepertinya gak tau
kesenangan yang gue alami ini. Dia bagaikan nyamuk yang enaknya tinggal ditepok
aja. Tapi, karena tujuan gue disini adalah ingin menyatakan rasa ke Anggi dan
Ipan sebagai penyalur rasa, akhirnya gue putusin buat mengikuti apa kata dia
dengan sedikit gugup.
“Eeehh..
Nggi.. gue pengen ngomong sesuatu nih ke lo…” gugup gue.
“Ngomong
apa nih Nic?” jawab dia. Gue deg-degan. Gugup setengah mampus. Gue belom siap buat kaya
gini-ginian.
“Tunggu
bentar ya, Nggi. Gue ke toilet.. bentar aja..” bohong gue. Gue taruh hape gue
agak jauh dari gue agar Anggi gak bisa denger apa-apa saat gue ngobrol sama
Ipan.
“Pan,
serius nih gue ngomong sekarang?” tanya gue.
“Iyalah,
puisi udah siap kok. Gue cuman pengen bantu lo aja. Toh, basa-basi lo lama amat tadi,
gregetan gue nungguinnya.” jawab Ipan.
“Tapi
gue gak siap mental nih buat ngelakuin ini, Pan. Emangnya gak bisa ya kita bisa jadian cuman dari
ngomong-ngomong kaya gini?” gue ngeles.
“Ya enggak lah. Atau gini aja, biar
gue yang kasih tau dia kalo lo mau nembak dia!” sahutnya sambil ngambil hape
gue..
“Gak! Gausah! Jangan! Sini mana
puisinya, gue yang baca…” bilang gue.
“Nih.”
“Tapi…
gue gak yakin sama puisi buatan lo pan…” gue ragu.
“Elaaah
susah amat sih tinggal baca aja.” bales dia lagi. Dengan modal puisi “bekas” ini, gue
beranikan diri ngangkat hape dan lanjutin pembicaraan tadi..
“Nggi… lo masih disana
kan? Ini call masih nyambung kan?”
tanya gue.
“Iyanih,
kan nungguin lo. Kok
lama ya? Lo beser
apa gimana?” canda dia.
“Iya gue
beser Nggi sakit banget...”
“Sumpah!
Jijik abis hahahaha…”
tawa dia.
“Nggi…”
“Iya,
Nic?”
“Gue ada
puisi nih, tapi buat lo. Mau
dengerin gak?”
“Mmmm... ya boleh kok.”
Jawaban
Anggi yang selalu positif itu buat gue seneng, senyum selalu terpancar di muka
gue. Puisi ini gue baca dengan terbata-bata. Rasa gugup ini muncul begitu saja
setelah kesenangan gue menyelimuti hati gue untuk beberapa saat.
“Ketika aku melihatmu…
Hati ini terasa berdetak…
Kamu adalah perempuan terbaik yang pertama kali aku kenal...
Parasmu begitu indah…
Kamu adalah semangatku...
Ingin rasanya aku bisa memiliki hatimu...
Menjadi bunga dihatiku…
Perempuan yang selalu menemaniku…
Disaat aku sedang senang dan susah...
Kamu selalu ada untukku...
Apakah kamu mau menjadi bunga dihatiku?” kata
gue. Gue keringetan.
Gugup. Tangan gue dingin. Pasrah menunggu jawaban apapun yang Anggi keluarkan.
“…….”
Keheningan menghampiri Anggi gitu aja setelah gue bacain puisi tadi. Disitu gue
juga terdiam, menunggu respon dari dia.
“Puisinya
lucu, Nic. Gue suka. Tapi….”
“Lo gak apa-apa kan
Nggi?”
“Maaf
sebelumnya Nic. Gue gabisa nerima lo. Lo itu lucu, bikin mood
naik gitu aja. Juju aja, gue suka sama tingkah laku lo, sifat-sifat lo, gue suka sama lo, dari dulu.
Tapi, gue gak ngerasa kalo kita bakal worth
it jalaninnya, apalagi lo baru sekarang ngungkapinnya. Gue ngerasa kalo kita emang
lebih baik jadi teman aja. Gue takut, akrabnya kita bubar gitu aja pas putusnya nanti. Bukannya
apa-apa, tapi gue gamau ngerasain hal yang kayak gitu sama lo. Tapi gue
seneng kok, Nic. Gue seneng bisa dengerin candaan lo lagi walaupun
cuman sebentar. Maaf ya tapi makasih juga buat mau telpon gue.”
Gila.
Gue terdiam sama
kata-kata dia. Gak
tau musti sedih atau seneng buat nyikapin kalimat dia tadi. Gue sedih, tapi
seneng juga dia bilang suka sama tingkah-tingkah aneh gue yang pernah gue
lakuin ke dia. Entah kenapa Ipan menunjukkan muka dengan arti,”Yaudah, itu
memang jawaban dia buat lo. Lo gak bisa
paksain terus. Udahlah, terima aja apapun hasilnya.” Gue lanjutin telpon yang
tadi..
“Ohh…
makasih ya Nggi buat jawabannya. Gue cuman… baru berani nyatainnya sekarang.
Iya gak apa Nggi, maaf ya ganggu lo malem-malem gini sampe bikin lu baper.
Sama… makasih banget ya mau ngulurin waktu lo buat gue.”
“Iya,
Nic. Besok kan kita masih sekolah. Gue tidur ya. Makasih ya, Nic.” Tutupnya
dengan dia yang endcall kita. Gue tutup
homescreen gue dengan muka loyo.
“Gitu
dong, bukan diterima engganya. Tapi beraninya lo yang bisa atau engga ngungkapinnya.” puji Ipan.
“Iya,
Pan.” bales gue singkat. Sebelum gue beranjak dari sana, gue berterima kasih
sama Ipan yang ngebantuin gue buat ngelakauin hal seperti ini. Gue pulang,
keadaan unmood, dengan pikiran yang macem-macem
dengan keadaan yang membingungkan tadi. Gue coba tenangin diri gue agar tidak
terlalu larut sama kejadian. Gue buka twitter,
cuman untuk melupakan persoalan tadi dan….. sebuah quotes ter-retweet oleh salah satu teman gue:
“Bukan karena kamu pecinta bunga, kamu bisa memetiknya begitu saja. Karena cinta itu adalah apresiasi,
bukan posesif.”
Gue
galau seperti layaknya ABG pada biasanya. Malam itu gue hanya merasa memang dia
adalah yang terbaik buat gue, tapi lebih baik lagi gue membiarkannya dia dengan
keputusan yang dia buat. Dan memang benar, cinta itu apresiasi, bukan posesif. Entahlah, hanya itu yang ada
dipikiran gue. Untungnya, Anggi gak masuk ruang ICU. Gue tertidur dengan bunyi rintikan
hujan dari luar.
Benar-benar malam yang tak terduga.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar