Senin, 18 April 2016

Sh*t-Man First Step.

Pukul tiga buta dihari Kamis ini, gue terbangun dan gak bisa tidur lagi. Pikiran gue tertuju dengan “apa yang semestinya gue lakukan sebagai first impression disekolah, kawan dan lingkungan yang baru”
Mengambil handuk, mencoba mandi dihawa sedingin ini. Cukup lama gue mandi, karena air dibak yang tidak mencukupi kebutuhan air gue seperti biasanya. Mau gak mau gue harus menadahkan gayung tepat dibawah kran air.
Menunggu air yang kadang keluar begitu deras, kadang sebaliknya. Bila gayung terasa sudah mulai berat, gue segera mengguyur seluruh badan dengan air tadahan tadi. Begitu seterusnya hingga gue lelah menandakan gue selesai mandi.
Gue berinisiatif membuat sarapan untuk diri gue sendiri. Keadaan yang masih gelap dan hawa dingin disekitar, seketika buat gue malas melakukannya. Terbaring lagi gue dikasur, dengan seragam batik yang sudah terpakai rapih.
Gue stalk twitter milik cewek yang puja-puja semasa menegah pertama dulu, Anggi. Beberapa quotes yang dia re-tweet, sering menggambarkan apa yang sekarang dia rasakan dan alami. Gue telusuri satu persatu dan ada salah satu quote yang menarik perhatian gue…

If words left physical scars, would people be more careful with what they say?
           
            “Bila kata-kata meninggalkan luka yang tampak, akankah orang lebih berhati-hati dengan apa yang mereka katakan?” Hmm… jelas. Dia lagi sakit hati karena lisan insan lain. Dulu, kalau dia tweet atau re-tweet dengan model “galau” seperti tadi, suka gue reply dengan,”Lo kenapa, Nggi?”. Yang pada akhirnya selalu dijawab dengan satu kalimat, sejuta arti,”Gue gapapa.”
            Anggi adalah tipe cewek yang gue idam-idamkan, dulu. Kalimat-kalimat konyol yang selalu dia keluarkan saat kita bersama, buat gue ingin dekat terus dengannya, selalu  nyaman bila bertatap muka dengannya.
Cantik. Ya, dia sangat cantik, apalagi dengan senyum khasnya, senyum lebar terbuka. Matanya yang menyipit dikala tersenyum adalah bukti bahwa senyum itu pure tanda dia senang, bukan senyum palsu yang selalu gue liat selama ini didunia luar. Dan Anggi, bukan salah satu pengguna fake smile, seingat gue.
            Semua khayalan gue tadi terasa sia-sia saat gue tiba-tiba teringat bahwa dia sempat berpacaran bersama cowok yang lebih berani mengutarakan rasa terhadapnya dulu semasa SMP. Gue yang hanya sebatas teman dengannya, merasa kalau gue lebih layak bersamanya dibandingkan si cowok tadi, sebut saja dia Budi.
Budi setahu gue dekat dengannya hanya sebentar saja, tiba-tiba bisa jadian. Ya jelas, Budi memiliki apa yang gue gak pernah punya, yaitu segala-galanya. Beberapa kejadian yang menyayat hati selalu tampak didepan gue. Iya, selalu.




Kenapa mereka gak main dibelakang gue aja? Agar sakit yang gue rasakan gak sepedih yang selalu gue lhiat. Seperti di jam istirahat, mereka ke kantin bersama, membeli makan bersama, memilih meja yang sama dengan posisi yang hampir setiap hari gue gak sengaja lihat, yaitu sebelah-sebelahan.
Tangan Budi yang kegatalan, sering coba buat rangkul Anggi dimanapun, kapanpun, didepan siapapun. Risih dan gak terima karena cemburu adalah hal yang sering gue rasakan. Walaupun kami memang masih jalin komunikasi seperti biasanya saat itu, tetap aja ada rasa yang berbeda. Kedekatan kita masih ada, tapi gue gak bisa ngerasainnya. Beda aja.
Pikiran gue tentang Anggi dan Budi tadi gue buang jauh-jauh. Gue coba untuk menghiraukan quote dia tadi. Gue pasang earphone, klik mode shuffle-play dan keluarlah… “Someone Like You – Adele”.
Denting piano dan lirik yang menghujam tepat dibagian hati yang gak sengaja terluka dengan lancar gue ikuti untuk dinyanyikan. Belum habis lagu tadi, gue tertidur dengan earphone yang masih menyangkut ditelinga.
Alarm gue berbunyi begitu kencang lewat earphone. Gue terbangun kaget. Waktunya gue sekolah. Ngojek. Iya, ngojek. Gue masih belum dibolehin membawa motor ketempat yang baru gue kenal.
Nyokap takut terjadi apa-apa. Gak sempat sarapan,  Nyokap membawakan gue bekal yang berisi sarapan yang harusnya gue makan terlebih dahulu, roti tawar dengan segala olesan selai.
MOS yang diadakan beberapa hari lalu menandakan bahwa hari ini adalah hari pertama gue belajar di SMA. Seketika gue sedih di jok belakang motor ojek. Waktu liburan yang gue kira bakal kekal abadi, dicabut begitu saja masa berlakunya oleh setumpuk tugas-tugas yang akan mendadak datang menyerbu dikemudian hari.
Di kesedihan yang tadi gue rasakan di jok belakang, gue makan roti sebagai peredam emosi. Sambil makan dan kemudian gue berpikir

”Ini adalah masa dimana gue menginjak masa yang mungkin akan berjalan seru bila diceritakan kembali, suatu saat nanti.”

***

Gue masuk kelas dengan keadaan yang tidak begitu sepi, maupun sebaliknya. Gue mencari ancang-ancang untuk duduk sendiri dulu. Melihat seluruh sisi kelas, dan ada satu spot bangku belakang yang belum ditempati siapapun. Sengaja gue pilih duduk dibagian itu, agar gue gak kurang pergaulan.
Setelah duduk, gue mengambil hape didalam tas. Tangan gue kegatalan, sengaja membuka twitter account Anggi, untuk memastikan bawa dia baik-baik saja didunia maya. Gue tidak melihat tanda-tanda update-an dia. Gue merasa kosong. Biasanya tweet apapun dari dia adalah media penghibur  gue.
Kantuk yang datang karena kehampaan lingkungan sekitar, buat gue ingin memejamkan mata untuk beberapa menit. Duduk diam sembari melihat beberapa bangku yang kosong didepan adalah momen yang pas buat gue untuk tertidur kembali dikelas yang sepi sunyi ini. Gue pun menyilakan tangan, lalu tertunduk kantuk. Dan tiba-tiba..
            “Mmmm... disini kosong gak?” cetus kalimat seorang siswa yang sedikit buat gue terkaget. Gue gak menoleh buat melihat mukanya…
            “Iya… sebelah gue kosong kok.” Ucap gue sambil menunduk hingga tidak menghiraukannya lagi. Tapi itulah yang gue ucap sebagai perkenalan pertama. Tapi, dengan tekad gue yang mengatakan bahwa gue mesti punya first impression yang baik, akhirnya gue bangun…
            “Nama gue Gilang, gue duduk sini ya.” kata dia.
            “Gue Nico, yaudah lo duduk disini aja.” pede gue yang masih enggan melihat muka dia untuk pertama kalinya. Gue sedikit risih dengan kehadiran dia, yang duduk disamping  gue. Padahal bangku didepan masih banyak yang kosong, tapi dia lebih memilih untuk duduk paling belakang yang memang, slot bangku belakang hanya tinggal disamping gue.
            “Di MOS kemaren, lo kelas berapa?” tanya gue, sok kepo.
“Kelas sebelah, lo?” jawab dia sambil nanya balik.
“Disebelahnya lagi.” jawab gue. Hening beberapa saat lalu dia melanjutkan..
“Lo dari SMP mana?”
“Gue dari SMP sebelah, lo?”
“Sebelahnya lagi.” Disitu gue berpikir kalau Gilang orangnya asik. Risih yang selama ini gue pendam kepadanya, berubah gitu aja. Asik aja. Kita semakin akrab, semakin cepat kenal satu sama lain, lebih dalam lagi. Gak kerasa gue sama Gilang udah ngobrol dan makan waktu yang cukup lama sampai-sampai bel pun berbunyi
Pelajaran hari pertama adalah Bahasa Indonesia. Mestinya, guru masuk untuk megajar pagi ini. Namun, apalah yang kita tunggu, kelas menjadi pelajaran kosong untuk pertama kali. Suasana yang pas untuk bercengkrama dengan dunia sekitar. Namun, gue yang tengah asyik ngobrol sama Gilang, dipotong begitu saja…
            “WOY, NAMA GUE MALIQ, SALAM KENAL YAK!!” teriak anak yang duduk didepan kita. Gilang kaget bukan kepalang. Dia pun langsung mengeluarkan brass-knuckle sepeninggalan kakeknya, bersiap untuk menyerang. Gue pun menahan dia untuk melakukan tindakan tercela dadakan.
            “Nama gue Gilang, Liq. Santai, kita gak ngatain kalo arab itu kaum minoritas disini…”
            “Nama gue Nico, bang.” sahut gue.
            “Gue Maliq.” jawab dia santai.
            “Lu dari mana, Liq?” tanya Gilang ngelantur. Padahal daritadi Maliq cuman duduk didepan kita.
            “Gue daritadi disini ngeliat lo berdua, ngobrol gajelas hahaha.” canda dia.
            “Lo yang gak jelas!” balas Gilang sewot.
            “Bapak lo yang gajelas!” balas Maliq.
            “Lebih jelasan bapak gue daripada bapak lo!!” balas Gilang. Permainan “katain bapak” tadi buat gue rada risih buat dengerin mereka, apalagi ikutan. Kan kasihan, orangnya gak ada, dikatain gak jelas. Bersin-bersinlah bapak kedua anak tadi di kantornya masing-masing.




            Ya, Maliq adalah “anak arab” yang duduk didepan gue dan Gilang. Gak puas dengan hanya kenal mereka, gue mencari lagi teman-teman yang mau berteman sama gue. Semua murid cowok yang ada dikelas, gue libas habis dengan menjadikan mereka sebagai kenalan baru. Respon positif mereka yang mau menerima dunia luar, buat gue gampang kenal dan akrab dengan mereka.
Urusan murid perempuan, cuman beberapa aja yang gue kenal. Itu juga yang bagian yang duduk belakang aja. Karena gue lihat, mereka semua asyik dengan buku pelajaran yang baru nanti mereka pelajari. Tekad first impression gue masih terlalu kuat dibandingkan rasa malas gue untuk kenal mereka. Pada akhirnya, gue kenal baik dengan seluruh murid dalam kelas.

***

 Beberapa minggu kemudian, keseruan yang gue alami sama Gilang semakin berkurang karena Gilang tiba-tiba punya pacar. Gabisa gue tutupin ke-jealous-an gue karena setiap kita ngobrol, dia masih bisa sempatin waktu untuk bales chat pacarnya. Saat itu juga gue basa-basi nanya…
“Chat dari siapa tuh?” tanya gue.
“Masa lo gak tau, Nic?”
“Gak tau apa?”
“Dari pacar gue…” jawab dia sambil senyum-senyum.
“Emang lo punya pacar?”
            “IYALAH!” Ucap dia sombong. Dan gue dengan jujur mengatakan kepadanya…
            “Lang, gua juga mau kali punya pacar kaya lo.” jawab gue.
            “Lo maunya yang kaya gimana, Nic? Gue ada banyak nih hahahah.” Kata dia sambil menunjukkan contact BBM yang ada di hapenya. Gue memang sempet lihat-lihat beberapa account teman-temannya.
            “Selera kita beda kayanya, Lang. gimana kalo lo bantuin gue deketin temen SMP gue dulu?” kata gue.
            “Iya.. iya…” kata dia sambil asyik main hape.
            Karena gue tau kalau bantuan Gilang hanya sebatas omongan, gue minta bantuan ke teman masa kecil gue, Ipan, untuk membantu gue menjalin hubungan yang belum lama ini terabaikan begitu saja. Malam dihari itu juga gue ke kost-nya.
“Pan, keluar buru, PENTING!!!” chat gue ke dia.
“Apaan nih? Lo tinggal masuk aja sih!” balesnya.
“GIMANA MAU MASUK KALO PINTU INI LO KUNCI, BODOH!”
“Emang iya gue kunci?”
TAU.
“Elaaaaah, yaudah lo tunggu sebentar ya, gue lagi mandi.”
Seketika gue mikir. Dia mandi sambil main hape. Yaudah. Terserah dia. Chat kita cuma gue read saat itu sambil duduk dibawah pohon rindang tepat didepan kostnya. Sambil nunggu dia selesai mandi, gue pasang earphone sambil dengerin lagu. Ditengah-tengah lagu, bunyi notif chat gue dari Ipan..
“Nic, kok cuman diread?”
“Nic…”
“Nic…”
“Nic… gue mau nanya dong…”
“Kalo mandi, enaknya nyanyiin lagu siapa ya?” bunyinya.
“GATAU.”
“BODO AMAT.”
“TERSERAH LO AJA.” bales gue.
“Yee yaudah deh gue mandi gak sambil nyanyi.”
Chat lagi-lagi gue read. Isinya gak penting, dibalas pun percuma. Emosi gue yang tadinya stabil karena lagu yang asik, jadi berantakan gara-gara manusia yang lagi mandi sambil main hape yang kepengen nyanyi tapi gatau mau nyanyi lagunya siapa.
Gak kerasa lagu yang sama gue puter tiga kali, Ipan pun keluar kostnya, menyuruh gue untuk masuk kedalam. Ipan menyuruh gue duduk langsung dengan teh hangat tepat berada di meja bersama satu teko besar untuk re-fill.
“Ada apa gerangan neh? Gak biasanya lo kesini malem-malem gini. Besok juga lo masih sekolah. Lo gak dimarahin pas balik nanti?” tanyanya.
“Disini kok hawanya negatif ya?” canda gue saat menengok dia.
“Iyalah karena disini ada gue, bahan cengan lo setiap saat. Lo seneng sekarang?” kata dia. Kalimat aneh yang dia keluarin saat itu seketika gue refleks dengan santai..
“IYALAAAAAHH!” kata gue dengan penuh kebahagiaan. Setelah itu, gue cicip teh yang ternyata masih panas dan rasanya tawar. Rasa yang aneh untuk dijadikan teh, menurut gue.
Sedikit tentang Ipan, dia adalah pemuda yang dengan berani menyatakan langsung apa yang dia rasakan terhadap perempuan yang dia suka, bahkan baru kenal sekalipun. Tapi, nyali beraninya dia gak sejalan sama jawaban dari beberapa perempuan yang kadang “nyelekit kalo diucap, apalagi kalo didepan umum.” Gue memberanikan diri untuk membuka pembicaraan kembali..
“Pan, gue kesini mau…”
“OKE GUE AKAN BANTU LO BROOOO!!!” potong dia.
“Gue tau, lo pasti mau nanya tentang cewe kan?” lanjut dia.
“Mmmm… ya, Pan. Gue mau nembak nih tapi lewat call aja karena dia temen SMP gue.” kata gue.
“Di pedekate-in dulu aja Nic, lo buru-buru amat sih.” balesnya.
“Udah… tapi waktu SMP dan setelah lulus kita gak pernah chat lagi. Dan dia juga baru putus sama pacarnya..
“Emangnya lo gak takut ntar kalo dia nolak lo karena masih gak bisa move on dari mantannya?”
“Enggak.”
“Beda SMA sekarang sama lo?” tanya dia.
“Beda.” jawab gue.
“Dulu gue pernah buat puisi buat nembak cewe yang gue suka. Trus gue bacain pas gue nembak dia…” Ipan bilang.
“Trus?”
“Cewenya langsung masuk ICU.” jelasnya. Disitu gue kaget karena mendengar kalimat yang barusan keluar. Bener-bener bisa bikin ketawa. Sebenernya gue pengen ketawa, tapi raut muka Ipan memberi tahu kalau itu mungkin beneran kejadian. Disitu gue tahan ketawa gue dengan senyum kecil.




“Pan, trus gimana nih buat nyatainnya?” kata gue.
“Mending pake puisi gue aja, tinggal baca abis itu nyatainnya lewat call seperti yang lo maksud.” kata Ipan.
“Kalo gue baca puisi lu itu, si Anggi bakal masuk ICU gak?” canda gue.
“Pasti! Biar bisa temenan sama mantan gebetan gue disana.” bales dia. Disini gue nelen ludah, takut beneran kejadian sama anak orang secara gak sengaja.
“Yaudah deh, gue ambil dulu puisinya, Nic.” Ipan langsung pergi, membuka lemari buat nyari puisinya. Kepergiannya tadi berikan gue waktu untuk menaruh teh tawar dicangkir yang gue minum, masuk kedalam teko. Satu cangkir penuh, biar kelihatan habis. Lalu dia datang membawakan bingkai foto yang isinya itu puisi buat mantan gebetannya dulu.
“Ini puisi… kayaknya spesial banget ya… dibingkai gini..” kaget gue.
“Hehehehehehehe….” ketawanya.
“Loh lo doyan apa gimana? Cepet banget habisnya itu teh.” lanjut dia sambil mengangkat teko re-fill.
“MAKASIH-MAKASIH, PAN. GUE BISA AMBIL SENDIRI KOK, JANGAN YA… JANGAN..” kata gue panik. Ipan pun melihat gue aneh. Gue cuman bisa buang muka, sambil melihat puisi berbingkai yang dia taruh di meja tadi.
Puisi yang dia bingkai rapih itu terlihat kusam. Karena terlalu lama disimpan, menimbulkan debu-debu bekas jaman kolonial. Puisi didalamnya sengaja gue keluarin dari bingkai dan ternyata… ada foto dia bersama cewek yang mungkin adalah mantan gebetan yang tadi dia ceritakan terpampang yang sebelumnya tertutup oleh puisi. Dua murid berseragam putih-biru, sedang tersenyum menghadap kamera handphone hasil selfie. Setelah gue telaah jauh, gue sadar ini adalah foto editan yang nyaris gak ada sempurnanya sama sekali.
Gue ketawa kecil disitu. Gue liat kearah Ipan, dia pun senyum-senyum malu. Agak mubazir gue luangkan waktu gue untuk melihat senyumnya tadi. Dipikiran gue itu adalah, ini foto si mantan gebetannya yang selfie sama teman lelakinya dia, yang lalu Ipan temukan di jejaring sosial, dia edit muka cowok tadi yang diganti dengan muka dia sendiri. Agak miris sih, cuman ya gitu lah.
“Kenapa lo liatin terus-terusan foto itu, Nic? Lo iri sama gue?” tanya dia.
“Iya gue iri banget sama lo. Banget-bangetan.” jawab gue penuh iba.
“Hahaa.. ya udah mestinya lo iri sama gue dan dia.” balesnya. Sombongnya dia yang gak ketulung tadi, bikin gue iseng nanya…
“Ini foto hasil jepret kapan, Pan?
“Foto ini.... gue lupa.. hee..” jawab dia. Karena gue tau dia bohong, gue hanya tersenyum biar suasana gak canggung. Puisi yang gue keluarin tadi gue bersihkan pake tissue beserta bingkai dan foto hasil editan tadi. Gue terpaku saat baca itu puisi, bener-bener bikin cewek masuk ICU.
“Nah nanti lo bacain deh itu puisi sambil telponan, heheee...” cetus Ipan bahagia. Gue merasa gue bakal dikerjai habis-habisan tanpa sengaja olehnya. Tapi, dengan hati yang kuat untuk menyatakan perasaan yang sudah lama terpendam, gue beranikan diri walaupun sedikit gemetar ditambah tawaan geli yang ditunjukkan Ipan yang sungguh mengganggu.




“Lo masih punya nomor telponnya kan, Nic?” tanya Ipan.
“Ada dong.....” jawab gue.
“Oke, telpon aja sekarang si Anggi.” balasnya.
Ipan seakan-akan gak tau kalo pengecutnya gue dibagian menyatakan perasaan. Tangan gue mendadak dingin, 100% belum siap. Gue membuka contact dengan nama Anggi dipaling atas barisan A. Tombol call hijau pun terpencet dengan harapan Anggi tidak menjawabnya dengan alasan apapun. Ipan minta agar call kita dibuat loudspeaker. Gue pun mengiyakan dengan berat hati.
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Halo?...”Jawab Anggi.
“Emm ini siapa ya?” tanya dia. Gue bener-bener gak berani menjawab pertanyaan “ini siapa ya?” versi Anggi tadi. Entah kenapa gue senang mendengar kembali suaranya walaupun jarak jauh.
“Haloooo?.....” kata Anggi. Ipan yang menyaksikan gue disamping merasa geregetan karena gue yang gak membalas jawaban dari Anggi. Sambungan telpon pun ditutup oleh Anggi tanpa sebab.
“Lo tuh gimana sih, Nic?” Ipan kesal.
“Lo sendiri yang minta buat nyatain, tapi lo juga yang takut buat nyatainnya. Gimana sih. Payah.” omel Ipan. Ipan emang ada benernya. Gue musti berani.
Ipan yang kesal dengan perlakuan gue, membuat gue ingin menebus dosa tadi dengan cara mengulang kembali call tadi. Contact Anggi yang lengkap dengan email, alamat rumah, hingga foto hasil selfie dirinya yang gue pasang sebagai contact picture yang ada di hape gue itu membuat gue langsung cepat-cepat menekan tombol call tadi. Loudspeaker gue aktifin lagi.
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Tuuuuuttttt....”
“Halo? Ini siapa ya? Kok tadi di tanyain, gak disautin?” tanya dia.
“Eeeehh... Hallo.. Anggi.. ini Nico.. lo masih kenal kan sama gue?” jawab gue.
“Nico? Yang kita pernah sekelas waktu kelas 8.2 itu kan? Yang pernah pernah nangis gara-gara diledekin satu kelas cuman karena bekelnya diabisin si Jo? Hahahahaa… inget-inget itu tuh lucu banget lo-nya, kenapa lu itu harus nangis. Mestinya lo tinggal minta ganti sama Jo pake jajanan dikantin kan selesai hahahaha!!!” jawab dia panjang sambil cerita agak panjang tadi. Ya bener, yang diomongin sama dia gak ada yang salah, sama sekali. Dulu gue emang cengeng abis. Gamau canggung karena malu, gue lanjutin..
“Heee.. lucu ya.. lo detail abis sampe gue dikasih solusi yang harusnya dari kapan tau gue lakuin.” jawab gue, bawa suasana dengan santai.
“Eh tumben banget loh lo telpon, ada apa nih??” tanya dia. “TUMBEN BANGET LOH LO NELPON”,”ADA APA NIH”. Kalimat ini terus terngiang gitu aja dikepala gue. Gak tau kenapa gue senang dengar dia ngucap kalimat tadi. Rasanya, gue memang ditunggu-tunggu olehnya.
Tapi dengan kalimat itu juga buat gue berpikir, apakah memang langsung to the point buat nyatainnya? Apakah gabisa gue buat basa-basi dulu sebagai pencair suasana yang ada ini? Bingung gue sejenak. Ipan yang disamping gue cuman senyum-senyum aneh melihat gue yang kayanya malu-malu buat ngejawab, padahal via hape.
Sekejap pembicaraan kita dialihkan olehnya dengan flashback yang dilontarkan olehnya. Masa-masa SMP yang terjadi saat kita sekelas selalu menjadi topik pembicaraan yang asik untuk diikuti alurnya. Gue tertawa, dia pun demikian. Bahagia sesaat gue itu pun semakin lengkap dengan mendengarkan tawa dan canda dia walaupun sekali lagi, lewat hape. Mungkin memang waktu “basa-basi” yang terlalu lama menurut Ipan, dia pun berbisik ke gue…
“Nic, lo kelamaan. Cepetan bilang gih. Ini puisi gue yang pegangin, cepet baca!!” grutunya. Ipan sepertinya gak tau kesenangan yang gue alami ini. Dia bagaikan nyamuk yang enaknya tinggal ditepok aja. Tapi, karena tujuan gue disini adalah ingin menyatakan rasa ke Anggi dan Ipan sebagai penyalur rasa, akhirnya gue putusin buat mengikuti apa kata dia dengan sedikit gugup.
“Eeehh.. Nggi.. gue pengen ngomong sesuatu nih ke lo…” gugup gue.




“Ngomong apa nih Nic?” jawab dia. Gue deg-degan. Gugup setengah mampus. Gue belom siap buat kaya gini-ginian.
“Tunggu bentar ya, Nggi. Gue ke toilet.. bentar aja..” bohong gue. Gue taruh hape gue agak jauh dari gue agar Anggi gak bisa denger apa-apa saat gue ngobrol sama Ipan.
“Pan, serius nih gue ngomong sekarang?” tanya gue.
“Iyalah, puisi udah siap kok. Gue cuman pengen bantu lo aja. Toh, basa-basi lo lama amat tadi, gregetan gue nungguinnya.” jawab Ipan.
“Tapi gue gak siap mental nih buat ngelakuin ini, Pan. Emangnya gak bisa ya kita bisa jadian cuman dari ngomong-ngomong kaya gini?” gue ngeles.
“Ya enggak lah. Atau gini aja, biar gue yang kasih tau dia kalo lo mau nembak dia!” sahutnya sambil ngambil hape gue..
Gak! Gausah! Jangan! Sini mana puisinya, gue yang baca…” bilang gue.
“Nih.”
“Tapi… gue gak yakin sama puisi buatan lo pan…” gue ragu.
“Elaaah susah amat sih tinggal baca aja.” bales dia lagi. Dengan modal puisi “bekas” ini, gue beranikan diri ngangkat hape dan lanjutin pembicaraan tadi..
“Nggi… lo masih disana kan? Ini call masih nyambung kan?” tanya gue.
“Iyanih, kan nungguin lo. Kok lama ya? Lo beser apa gimana?” canda dia.
“Iya gue beser Nggi sakit banget...”
“Sumpah! Jijik abis hahahaha…” tawa dia.
“Nggi…”
“Iya, Nic?”
“Gue ada puisi nih, tapi buat lo. Mau dengerin gak?”
“Mmmm... ya boleh kok.”
Jawaban Anggi yang selalu positif itu buat gue seneng, senyum selalu terpancar di muka gue. Puisi ini gue baca dengan terbata-bata. Rasa gugup ini muncul begitu saja setelah kesenangan gue menyelimuti hati gue untuk beberapa saat.
“Ketika aku melihatmu…
            Hati ini terasa berdetak…
            Kamu adalah perempuan terbaik  yang pertama kali aku kenal...
            Parasmu begitu indah…
            Kamu adalah semangatku...
            Ingin rasanya aku bisa memiliki hatimu...
            Menjadi bunga dihatiku…
            Perempuan yang selalu menemaniku…
            Disaat aku sedang senang dan susah...
            Kamu selalu ada untukku...
            Apakah kamu mau menjadi bunga dihatiku?” kata gue. Gue keringetan. Gugup. Tangan gue dingin. Pasrah menunggu jawaban apapun yang Anggi keluarkan.
“…….” Keheningan menghampiri Anggi gitu aja setelah gue bacain puisi tadi. Disitu gue juga terdiam, menunggu respon dari dia.
“Puisinya lucu, Nic. Gue suka. Tapi….”
“Lo gak apa-apa kan Nggi?”
“Maaf sebelumnya Nic. Gue gabisa nerima lo. Lo itu lucu, bikin mood naik gitu aja. Juju aja, gue suka sama tingkah laku lo, sifat-sifat lo, gue suka sama lo, dari dulu. Tapi, gue gak ngerasa kalo kita bakal worth it jalaninnya, apalagi lo baru sekarang ngungkapinnya. Gue ngerasa kalo kita emang lebih baik jadi teman aja. Gue takut, akrabnya kita bubar gitu aja pas putusnya nanti. Bukannya apa-apa, tapi gue gamau ngerasain hal yang kayak gitu sama lo. Tapi gue seneng kok, Nic. Gue seneng bisa dengerin candaan lo lagi walaupun cuman sebentar. Maaf ya tapi makasih juga buat mau telpon gue.”




Gila. Gue terdiam sama kata-kata dia. Gak tau musti sedih atau seneng buat nyikapin kalimat dia tadi. Gue sedih, tapi seneng juga dia bilang suka sama tingkah-tingkah aneh gue yang pernah gue lakuin ke dia. Entah kenapa Ipan menunjukkan muka dengan arti,”Yaudah, itu memang jawaban dia buat lo. Lo gak bisa paksain terus. Udahlah, terima aja apapun hasilnya.” Gue lanjutin telpon yang tadi..
“Ohh… makasih ya Nggi buat jawabannya. Gue cuman… baru berani nyatainnya sekarang. Iya gak apa Nggi, maaf ya ganggu lo malem-malem gini sampe bikin lu baper. Sama… makasih banget ya mau ngulurin waktu lo buat gue.”
“Iya, Nic. Besok kan kita masih sekolah. Gue tidur ya. Makasih ya, Nic.” Tutupnya dengan dia yang endcall kita. Gue tutup homescreen gue dengan muka loyo.
“Gitu dong, bukan diterima engganya. Tapi beraninya lo yang bisa atau engga ngungkapinnya.” puji Ipan.




“Iya, Pan.” bales gue singkat. Sebelum gue beranjak dari sana, gue berterima kasih sama Ipan yang ngebantuin gue buat ngelakauin hal seperti ini. Gue pulang, keadaan unmood, dengan pikiran yang macem-macem dengan keadaan yang membingungkan tadi. Gue coba tenangin diri gue agar tidak terlalu larut sama kejadian. Gue buka twitter, cuman untuk melupakan persoalan tadi dan….. sebuah quotes ter-retweet oleh salah satu teman gue:

Bukan karena kamu pecinta bunga, kamu bisa memetiknya begitu saja. Karena cinta itu adalah apresiasi, bukan posesif.”

Gue galau seperti layaknya ABG pada biasanya. Malam itu gue hanya merasa memang dia adalah yang terbaik buat gue, tapi lebih baik lagi gue membiarkannya dia dengan keputusan yang dia buat. Dan memang benar, cinta itu apresiasi, bukan posesif. Entahlah, hanya itu yang ada dipikiran gue. Untungnya, Anggi gak masuk ruang ICU. Gue tertidur dengan bunyi rintikan hujan dari luar. Benar-benar malam yang tak terduga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar