Tugas
matematika ini gak bisa gue kerjakan dengan baik. Dengan semampunya, tangan gue
mengukir hal yang hanya gue bisa. Bagaimana dengan Gilang? Seperti biasa,
menunggu apapun hasil yang gue kerjakan.
Gue juga ingat, Gilang telah memesan
tiket menonton untuk kita berempat. Dia, Tika, Nanda dan gue. Sesekali dia
menanyakan, apakah tugas yang selalu kita kerjakan benar-benar menentukan kita
kedepannya. Entahlah Lang, gue pun juga gak tau.
“Eh itu nontonnya gimana? Lo
udah mesen kan?” tanya gue disela-sela tugas kepadanya. Mata gue masih terfokus
dengan bilangan-bilangan yang gue ukir.
“Gak jadi.” jawabnya singkat.
“Lah kok?”
“Gue lagi berantem sama Tika.
Jadi tiketnya gue jual lagi ke orang, Nic.”
“Ya… gak usah dijual juga kali
kan bisa juga kita ajak beberapa anak kelas ini.”
“Telat banget, lo juga kayanya
gak mau nonton kemaren pas gue tawarin. Ya jadinya gue jual aja lagi.”
“Emang berantem gara-gara apa?”
tanya gue penasaran. Tiba-tiba…
“Nico sama Gilang, udah selesai
tugasnya? Berisik banget loh daritadi ibu perhatikan dari sini.” datanglah
suara misterius, berasal dari guru Matematika yang berada di kursi guru.
“Eeeehh… belom bu… belom
selesai..” jawab gue. Gilang menunduk dan memasang gesture seakan pensilnya menari-nari diatas buku.
“Pelanin suara lo.” Bisik Gilang
sambil menatap Guru.
“Iya ini udah pelan. Lo kok bisa
berantem? Gimana ceritanya?” tanya gue pelan.
“Dia gak adil banget, masa dia
bisa keliyaran gitu aja sama mantannya. Giliran gue? langsung diambekin.” ucap dia.
“Jadi… cuma gara-gara itu aja?”
“Gak gampang Nic buat minta
maafnya.”
“Gak gampang juga buat
ngelupainnya.” Kita berdua senyum kecil. Pertanda kita mengerti tentang apa
yang kita bahas. Bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Gilang panik setengah mati.
Tugas ini pun selesai atau tidak, wajib hukumnya untuk dikumpul. Dan seperti layaknya
pemuda malas pada hakikatnya, Gilang tidak mengumpulkan.
Pelajaran pun berganti menjadi
Sejarah. Bu Ning sepertinya akan masuk agak telat. Diwaktu senggang itu Gilang
bercerita kembali tentang keluhannya terhadap Tika. Panjang lebar dia cerita,
entah apa yang masuk dipikiran gue. Gue hanya pendengar, bukan pengerti.
Bu Ning akhirnya masuk kelas.
Gilang tidak melanjutkan kalimat yang dia katakan. Semua anak terdiam untuk
memulai pelajaran. Bu Ning mengucapkan salam dan permintaan maaf karena dia
telat datang untuk mengajar. Kami pun menyalami kembali dan memaafkan kesalahan
yang seharusnya, selalu dilakukan oleh guru-guru lain.
Bu Ning mengatakan bahwa jam
pelajaran ini tidak digunakan sebagai jam belajar, melainkan jam kelas. Memang,
Bu Ning adalah Wali Kelas gue. Sisa jam pelajaran yang tinggal 20 menit lagi
itu pun dirubah menjadi jam Tata Kelas.
Operasi
Semut dilakukan dengan tiba-tiba. Sampah-sampah yang berserakan dikolong meja,
pojok-pojok kelas, entah kotoran apapun yang kita dapatkan dikelas wajib untuk
dibuang. Merapikan posisi meja dan bangku, agar sejajar dengan barisan samping
dan juga depan.
Setelah
semuanya rapih dan bersih. Bu Ning mengisyaratkan kita untuk mengatur ulang
posisi tempat duduk kita. Gue dan Gilang sebenarnya gak setuju dengan apa yang
Bu Ning rencanakan. Karena salah satu dari kita tidak ada yang berani
mengucapkan, terpaksa kita menerimanya.
Setelah
keputusan dibuat, gue dan Gilang “sengaja dibuang” kebagian yang bukan habitat
asli kita. Ya, didepan. Sesaat kita duduk didepan, Gilang berkata,”Nic, ntar
kita sekongkol sama cewek yang duduk dipojok belakang itu aja.” Gue mengiyakan
perkataannya, karena gue setuju. Gue juga gak mau, beradaptasi dengan
lingkungan yang gak gue suka.
Seusai
pelajaran Sejarah, gue dan Gilang bergegas melakukan negosiasi pertukaran
tempat duduk yang ilegal. Cewek-cewek yang menjadi sasaran kita mendengarkan
dengan seksama apa alasan kita untuk memilih tempat duduk yang mereka tempati
sekarang.
Kita
sedikit menghasut mereka, memberi alasan bahwa tempat duduk yang mereka tempati
ini konon punya penghuni yang sangat tertarik dengan perempuan. Entah mengapa
mereka betul-betul percaya dengan apa yang kita sampaikan. Mereka dengan cepat
menyetujui permintaan kita.
Gue
dan Gilang akhirnya kembali ke posisi belakang, bertukar tempat dengan
cewek-cewek tadi. Bedanya, kita sekarang berada di pojok. Ya, pojok belakang
yang menjauhi pintu masuk kelas. Ada satu lagi yang beda. Depan gue bukan Maliq
dan Rito. Ada Kasha dan juga teman sebangkunya, Nanda.
***
Hari
berikutnya, salah satu hari yang tidak menyenangkan buat gue. Untuk pertama
kalinya Gilang gak masuk dengan alasan sakit. Gue pun duduk sendiri. Gue merasa
hampa. Gak ada yang bisa gue ajak ngomong panjang lebar seharian.
Pelajaran dimulai dengan Kimia,
pelajaran favorit gue (waktu itu) karena kerjaan kita cuman mencatat. Banyaknya
materi yang disampaikan lewat proyektor OHP, mau gak mau harus kita salin
dilembar buku. Penilaian dari guru Kimia pun juga berdasarkan banyaknya catatan
yang kita catat.
Jujur, mata gue gak bisa melihat
papan tulis dengan jelas. Memaksa gue untuk maju kedepan untuk mencatat apapun
dipelajaran apapun. Gue biasanya agak malas mengikuti pelajaran. Tapi untuk
kali ini gue ikuti dengan serius, karena gak ada teman bermain.
Gue
pergi kedepan membawa pulpen beserta buku tulis. Duduk bersila, menghadap
papan, mencatat semua ilmu yang ditampilkan. Selang beberapa menit, sesuatu
terjadi dibelakang.
Terdengar
bunyi bangku bergeser. Langkah sepatu, terdengar pelan. Duduk dia disamping
gue. Gue sempatkan waktu untuk melihat. Ternyata, Nanda. Setelah melihat dia
siapa, gue melanjutkan mencatat. Beberapa tulisan yang kurang jelas, buat gue
bingung..
“Itu
bacaannya apa sih..” gumam gue sendiri sambil berpikir.
“Mana?
Oh… itu ionisasi..” jawab dia. Gue menoleh. Ya daripada gue bingung, gue tulis
kata tadi sebagai ionisasi. Gue melanjutkan mencatat. Gak lama…
“Ih
itu apaan sih bacaannya.” gumam dia sendiri.
“Mana?”
respon gue.
“Itu….
Ikatan tersebut adalah ikatan kov..”
“Kovalen
itu mah.” Nanda nunduk, melanjutkan catatannya.
Jam
pelajaran selesai, Bu Guru memita kita untuk menyelesaikan catatan kita di
pertemuan selanjutnya. Gue pun kembali bangku. Hampa banget gak ada Gilang. Gue
biasa ke kantin bareng dia. Membeli apapun yang kita suka.
“Eh
kampret, lo pake acara gak masuk sih.” chat gue ke dia. Belum di read, buat gue bosan. Gue ambil headset dari dalam tas, mendengarkan
lagu, membuang jenuh. Tiba-tiba…
“Nic,
Gilang gak masuk kenapa deh?” tanya Nanda, memutar badannya kebelakang.
“Emm..
katanya sih sakit, Nan.” jawab gue.
“Oh
gituuu.. terus lo ngerasa sendirian dong seharian..” dia balas tanya. Gue
mengangguk.
“Nic,
pinjem hape dong.” tanya dia. Gue mengangguk, menatap matanya. Jempolnya mahir
sekali mengutak-atik beberapa aplikasi dihape gue. Gue sesekali melihat apa
yang dia buka, selebihnya gue melihat keadaan sekitar.
“Nic…
yang ini ganteng ya..” ungkap dia sambil menunjukkan sosok lelaki di social media gue.
“Mana?...
oh dia tuh adek kelas gue, Nan.” jawab gue. Nanda mengangguk perlahan, lalu
melanjutkan “mencari” cowok ganteng dihape gue.
Dia
cukup lama memainkan hape gue, kira-kira sudah 7-8 lagu berbeda sudah gue
dengar daritadi. Bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. Hape gue
dikembalikan olehnya, headset gue lepas sambungannya. Kita belajar seperti
biasa.
***
Lagi-lagi
hujan besar menerpa wilayah sekolah gue di detik-detik akhir pelajaran. Siang
yang panas berubah menjadi gelap gulita lengkap dengan kilauan kilat dan petir
yang menyambar dari segala penjuru.
Pelajaran
Bahasa Inggris pun selesai, Pak Guru dengan cepat membereskan barang bawaanya
kedalam tas kerja miliknya. Kalau hujan seperti ini, gue paling males buat
beres-beres duluan, yang ujungnya pulangnya bakal belakangan karena kendala
cuaca.
Mie
kuah bisa jadi solusi cerdas dicuaca seperti ini. Bergegas gue kekantin,
membawa hape dan uang seadanya dari dalam tas. Pergi lah gue ketempat langganan
gue. Mi kuah dengan telur rebus dan satu cabai hijau dipotong kecil-kecil, es
teh sebagai penawar pedas dan panas.
Gue
memilih tempat duduk tepat didepan kios penjual. Sambil menunggu, main hape
bisa jadi penghilang penatnya belajar. Gak lama, Pak Oji datang. Dia adalah
guru bidang Komputer, dia juga mengajar kelas gue.
Sedikit
tentangnya, Pak Oji adalah guru yang suka bersosialisasi sama anak muridnya.
Yang akhirnya, sifat bawaan dia seperti anak menengah atas pada umumnya saat
mengajar. Sifat santainya itu, buat kita merasa dia itu seperti kawan sekelas.
“HEEEEHHHHHH….”
bentak dia sambil menghentakkan tangannya yang memukul meja. Gue kaget, hape
gue jatuh.
“Ngapain
lo?” lanjutnya.
“Lagi
nungguin mie pak..” jawab gue.
“Kok
kamu gak mesenin bapak mie juga?”
“Lah
saya mana tau bapak mau makan mie juga…” jawab gue sambil mengambil hape
dibawah.
“HEEEEEEE
EEEEHHHH” bentaknya lagi. Sehabis membentak gue, dia pergi ke kios penjual yang
sama kaya gue. Memesan mie, lalu duduk didepan gue persis. Mie kuah pesanan gue
telah datang, es teh-nya juga sudah siap.
“HEHHH
GAK SOPAN KAMU YAH!” bentak dia lagi.
“Kenapa
lagi sih pak yaAllah…”
“Tungguin
dong, mie bapak belom dateng.”
“Iyadeh
pak.” jawab gue. Mie kuah Pak Oji yang belom kunjung datang, buat gue menunggu
lagi datangnya sesuatu yang kali ini bukan punya gue.
“Kamu
udah punya pacar belom?” tanya dia. Pertanyaan paling random yang pernah gue dapet dari guru.
“Haaaahhh?”
kaget gue mendengar apa yang Pak Oji ucap barusan.
“Kamu
kenapa? Ngeliat HANTUU??!!” bentaknya.
“Kaget
saya pak…. Tadi ada kilat disana..” alasan gue sambil menunjuk kearah belakang
Pak Oji. Pak Oji menoleh kebelakang, lalu kembali menghadap ke gue.
“Kamu
tuh kalo jomblo, bilang ke bapak aja. Nanti bapak cariin yang bener-bener…
behhh…” katanya sambil menunjukkan gerakan melengkung-lengkung seperti gitar
spanyol dengan kedua tangannya. Gue diam saja sambil menunjukkan tatapan
meledek terhadapnya.
Mi
kuah pesanan Pak Oji akhirnya datang. Gue bersyukur, akhirnya celotehan kurang
jelas Pak Oji ada ujungnya juga. Dari kejauhan, nampan dibawakan oleh anak
perempuan sang pemilik kios. Dia datang membawakan mie pesanan, lengkap dengan
es teh. Sekilas, pesanan Pak Oji gak ada bedanya dengan pesanan gue. Bedanya,
punya gue menuju ke proses pendinginan.
“Makasih
ya, Mbak.” ucap Pak Oji.
“Ohiya
pak, sama-sama.” jawabnya. Senyum lalu pergi.
“Eh,
tunggu dulu Mbak!” sontak Pak Oji memegang tangan si Mbak tadi, menyuruh untuk
tidak pergi dahulu. “Kalo boleh tau, namanya siapa Mbak?” tanyanya.
“Tari,
pak.” Jawabnya singkat.
“Kamu
mau gak jadi pacarnya dia?” tanya Pak Oji, sambil menunjuk tepat kearah muka
gue.
Gue kaget, beribu kaget. Gue gak tahu. Gak ada kemaslahatan sama sekali
didalam kalimatnya tadi.
“Ih
si bapak apaan sih.” risih Tari dengan nada cepat. Yaiyalah, risih. Siapa juga
yang gak risih. Gue menunjukkan gesture
jari telunjuk membuat garis miring di dahi sambil menyipitkan mata.
Pak
Oji menoleh kearah gue. Tangan gue dengan cepat kembali ke posisi awal, sebelum
Pak Oji melihatnya. Gue pun tersenyum kearahnya, kemudian mengangguk cantik dua
kali.
“Eh
Nico, kamu mau gak sama dia? Pinter loh bisa masak juga. Nanti kalo pacar kamu
gak bisa masak, kamu bisa mati tau gak.” KEJI. Sungguh keji apa yang dikatakan
Pak Oji.
“Saya
masih punya ibu yang lebih sayang saya, pak.”
“Dasar
anak mami…” cetus Pak Oji.
“Mbak-nya
cabut aja… daripada digangguin sama Pak Oji mulu…” gue menyuruh Tika untuk
cepat-cepat menyingkir. Dengan sigap ia pergi.
“Ah
kamu nih… bapak cariin pacar aja kamu gamau..” katanya sambil melahap mie.
“Yaiyalah
pak…” balas gue sambil meniup mie tadi.
“HAAAAAHHHH…
HAAAAHHHH… HAAAHHH….” Pak Oji kepanasan. Mie super panas yang baru aja
dipesannya mungkin dimasak dengan lahar gunung.
“BAPAK
KENAPAA PAAAKK!!!” tanya gue (pura-pura) panik. Sekejap dia meneguk es teh
setengah gelas. Menghela nafas. Lalu..
“Kamu
tau gak, bapak tadi kenapa?” tanya Pak Oji.
“BAPAK
KENAPAA PAAAKK!!!”
“GAUSAH
TEREAK TEREAAAKKK!!! HAAAHHH!!” gue diam, lanjutin makan mie. Dimendung segelap
matinya lampu.
***
“Nic,
main xbox dirumah gue ya.” 07.08 a.m.
“Siangan
aja jam 11an, gue ditinggal nyokap alhasil sepi rumah.” 07.08 a.m.
“Woy…”
08.46. a.m
“P”
9.59 a.m.
“P”
9.59 a.m.
“P”
9.59 a.m.
“P”
9.59 a.m.
“P”
9.59 a.m.
“TIDUR
MULU LO BEGO.” 10.34 a.m.
Kalimat
diatas adalah alarm di hari sabtu ini. Jujur aja, gue lagi pengen males-malesan
dirumah. Leyeh-leyeh itu asik. Chat dia cuman gue read. Nyokap gue menyuruh gue
untuk mandi dan sarapan. Mungkin sudah bukan sarapan lagi namanya jika jam
pukul 10.45 pagi.
“Nic,
lo dimana?”
“p”
“p”
“P”
“p”
“p”
“Gue
udah dirumah ricko nih”
“Ada
kemal, abi sama mahdy nic.” Chat Ipan ke gue yang baru gue read setelah selesai
mandi.
“Iya
bentar gue makan dulu.” bales gue.
“Iyaudah”
Cepet-cepet gue ke dapur,
ngambil makan. Nyokap nanya, kenapa gue cepet-cepet? Emangnya mau kemana? Gue
menjelaskan ke dia bahwa Ricko mengajak gue main kerumahnya. Nyokap ngijinin.
Setelah itu, gue pergi menuju rumah Ricko si Saudara Tanpa Ikatan Darah. Sampai
digerbang, gue disambut hangat oleh sang tamu, Ipan.
“Lo
ngapain diluar pan?”
“Gue
nungguin Kemal tadi katanya dia kesini mau ngajak cewe…”
“Oh
gitu.. yang lain?”
“Udah
pada didalem, lo masuk aja sana..” gue masuk kerumah. Aura-aura rental udah
terdengar dari luar. Sorak-sorak stadion, celotehan komentator virtual itu
makin terdengar nyaring. Ricko sedang bermain dengan Mahdy disofa, Abi sibuk
dengan hapenya, tiduran di lantai.
“GOOOOOLLLLL
LU MAMPUSSSS LUUUUU!!!” sorak Ricko.
“Hoki
anjir.” balas Mahdy.
“HOKI
APAAANN!!”
“STARRRTTT
BEGEEE LAMA LUUUU!!”
“BERISIK
LU PADA.” teriak gue.
“GAK
SOPAN HEH TERIAK TERIAK DIRUMAH ORANGGG” sahut Ricko.
Gue
menanyakan keadaan rumah yang begitu sepi ke Ricko, dia menjawab bahwa dia
sejak tadi pagi sudah tinggal orang tua + adiknya jalan-jalan. Dia tidak ikut
karena kesiangan bangun. Dia pun masih sempat menyinggung-nyinggung gue soal
acara ulang taun Budi.
“Bodo
amat.” jawab gue sewot.
“Yah
jangan gitudong mas Nicooo ahahahahah…” jawabnya.
“AAAHHHHH
MAMPUSSS GOLLLL SERI ANJIR SERIIIII AHAHAHAHAHAHAHAA” sahut Mahdy.
“Ah
tai ngomong sama lu malah bikin gue cupu.”
“Mampus!!
hahahaaa..” Seri. Ricko memaksa tanding ulang. Mahdy setuju. Mereka berdua pun
bermain kembali. Perhatian gue mengarah ke Abi.
“Bi
gue pinjem perut lo ya buat bantalan.”
“Terserah..”
gue bersandar diperut Abi yang super besar.
“Eh
itu kenapa Ipan diluar dah? Gak masuk-masuk dia daritadi.”
“Dia
lagi nungguin Kemal. Si Kemal mimjem motornya dia tadi.”
“Lah
Kemal bukannya gabisa bawa motor?”
“Gatau,
palingan juga rusak bentar lagi ehehehe..”
Gue,
Ricko, Kemal, Mahdy, Ipan dan Abi adalah teman sekomplek, satu SD. Setelah itu
kita gak pernah berada dilingkup belajar yang sama lagi. Momen-moment akhir
pekan seperti ini kadang kita sempetin buat ngumpul. Ipan masuk kedalam…
“Oy
bro, si Kemal mau kesini nih tapi bawa pacarnya.”
“Ah
ngapain sih dia bawa-bawa.” gemas Ricko.
“Gatau
gue, yang penting motor gue balik dulu..” jawab Ipan.
“Iyaudah
tungguin aja didalem, kalo diluar lo makin keling.”
Permainan
silih berganti sembari menunggu Kemal yang tak kunjung hadir. Ricko lawan
Mahdy, gue lawan Ricko, Mahdy lawan Ipan dan seterusnya. Ngumpul kaya gini itu
asik. Kita semua sepemikiran. Apa-apa nyambung, walau yang tak jelas sekalipun
bisa jadi bahan candaan. Apa yang ditunggu, akhirnya datang juga.
“WOOOOYY
BROO!!” Kemal menunjukkan diri dengan pedenya.
“Kenalin
bro, cewe gue.. namanya Wanda.”
“Hai,
gue Wanda…” Wanda memperkenalkan dirinya ke kita, satu persatu menyalami.
“Mau
main xbox juga wan?” tanya Abi ke Wanda.
“Eh
engga lah, dia mau gue anter pulang dulu bi. Pan, pinjem lagi ya motornya ehe…”
potong Kemal sekaligus memohon ke Ipan
“Iyadah…”
jawabnya. Kemal pun mengantar Wanda dengan senyum bangga. Entah apa yang
dibanggain. Lagi-lagi kita berlima bermain sembari melihat para pemain yang
kalo menang sombong, kalo kalah ngeles.
“HALAAAAAHHHHH
TIANGGGG ANJIIIIIRRRR!!!”
“PELANGGARAAAANNNNNN
WOOOYYYY!!!”
“SUNDUUUULLLLL
GAAAANNNN… HALAAAAHHHH!!”
“GOCEK,
GOCEK, ONE TWO, ASEEEKKK, SHOOOTEEENGGG!!! YAILAAAHHH.”
“PENALTEEEEEEE
SEEETTTTTT!!!”
“CURANG
ANJIRRRR WASITNYA.”
“CROSSINGGGG
CANTEEEKKKK!!! ADUUUUHHHH!!”
“GOL
ANJIR GOOOOLLLLL!!!”
“MAMPUS
LUUUU MAMPUSSSS AHAHAHA!!”
“yah
tai offside.”
Kurang
lebih ramainya seperti itu. Gonta-ganti player, team, formasi, dan pemain. Lalu
tiba-tiba Abi mendapat pesan dari Ibnu.
“Pan,
lu kenal Ibnu kan? Yang kemaren lusa digigit anjing gila didepan gerobak
gado-gado Bang Maul?”
“Oh
dia, kenapa dia?”
“Dia
abis ngeliat Kemal sama cewenya nyemplung ke gorong-gorong.”
“AH
YANG BENER LU BI??? AH ANJIR ITU MOTOR MASIH CICILAN KETIGA ANJIIIIRRR!!”
“YAAAAAAHAHAHAHAHA
MAMPUS LU PAN, BELOM LUNAS UDAH JADI PERKEDEL ITU MOTOR!!” sahut Mahdy.
“Ah
itu bocah….”
“Yaudah
pan, kita ke gorong-gorong aja eahaha… firasat gue dia jatoh di gorong-gorong
depan SD.” sahut Ricko.
“Iya
bener pan, dia jatoh disana.” jawab Abi setelah menanyakan lokasi si Kemal
jatoh kepada Ibnu.
“Yaaa…
yaudahlah, gue khawatir sama motor gue.”
“GOBLOG,
Kemal gimana dong?” tanya gue.
“Nyemplung
aja sono kelaut.” Jawab Ipan.
Kita
berlima pergi dengan jalan kaki, karena gak terlalu jauh juga tempatnya.
Selangkah dua langkah, terlihat Ibnu tengah berjalan menghampiri kita.
“PAAAAANNNN!!!”
teriak dia dari kejauhan…
“WEEYYYY
NUUU… MOTOR GUE GIMANAA..”
“Oh
itu motor lu pan? Motor lu udah gue standar-in tadi. Stang kanan kiri macet
semua, jadi gabisa belok. Lampu depan retak-retak, spion kanannya copot,
untungnya gak nyemplung got motor lu. Cuman si Kemal yang kecemplung got
huahahahahaaaa..”
“Cewenya
gimana nu?” tanya Mahdy.
“Cewenya
udah cabut naik taksi barusan, keki ples ilfil kaliya uahahaha…”
“Yaudah
nu balik lagi lah ke SD nemenin kita ngeliat motor gue.”
“Ngeliat
Kemal pan….” celetuk gue.
“Mati
aja dia.” Sesampainya disana, kita kaget. Si Kemal masih di got, tengkurep.
Merintih kesakitan…
“HADUUUUHHHH”
“HADUUUUUHHHH”
“HADUUUUUHHHH”
ucap Kemal perlahan sambil memegang betisnya.
“Eh
tolongin bege kasian dia…” ajak Mahdy kepada kita.
“Lo
aja. Gue gamau.” jawab Ipan, lalu gue menjawab dengan hal yang sama dan iikuti
oleh Ibnu, Abi dan Ricko.
“Yaudeh,
gue juga engga… Mal… lo berdiri sendiri ya, eh jangan gerak dah.. mau difoto
dulu sama Abi wuahahaha…”
Akhirnya
Kemal berdiri dengan sendirinya, untung aja rumahnya gak jauh dari sini. Dia masih
bisa pulang jalan kaki. Walaupun sebelumnya, dia sempat meminta maaf atas apa
yang telah terjadi. Mau gak mau Ipan memaafkannya, walau biaya servis motor
pada akhirnya lebih nunggak dibanding biaya belinya.
“Lo
udah tau gabisa naik motor, gaya-gayaan.” cemooh Ipan ke Kemal.
“Lo
udah tau dia gabisa bawa, dipinjemin.” balas Ricko.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar