Selasa, 19 April 2016

Third Installment.

Tugas matematika ini gak bisa gue kerjakan dengan baik. Dengan semampunya, tangan gue mengukir hal yang hanya gue bisa. Bagaimana dengan Gilang? Seperti biasa, menunggu apapun hasil yang gue kerjakan.
                Gue juga ingat, Gilang telah memesan tiket menonton untuk kita berempat. Dia, Tika, Nanda dan gue. Sesekali dia menanyakan, apakah tugas yang selalu kita kerjakan benar-benar menentukan kita kedepannya. Entahlah Lang, gue pun juga gak tau.
                “Eh itu nontonnya gimana? Lo udah mesen kan?” tanya gue disela-sela tugas kepadanya. Mata gue masih terfokus dengan bilangan-bilangan yang gue ukir.
                “Gak jadi.” jawabnya singkat.
                “Lah kok?”
                “Gue lagi berantem sama Tika. Jadi tiketnya gue jual lagi ke orang, Nic.”
                “Ya… gak usah dijual juga kali kan bisa juga kita ajak beberapa anak kelas ini.”
                “Telat banget, lo juga kayanya gak mau nonton kemaren pas gue tawarin. Ya jadinya gue jual aja lagi.”
                “Emang berantem gara-gara apa?” tanya gue penasaran. Tiba-tiba…
                “Nico sama Gilang, udah selesai tugasnya? Berisik banget loh daritadi ibu perhatikan dari sini.” datanglah suara misterius, berasal dari guru Matematika yang berada di kursi guru.
                “Eeeehh… belom bu… belom selesai..” jawab gue. Gilang menunduk dan memasang gesture seakan pensilnya menari-nari diatas buku.
                “Pelanin suara lo.” Bisik Gilang sambil menatap Guru.
                “Iya ini udah pelan. Lo kok bisa berantem? Gimana ceritanya?” tanya gue pelan.
                “Dia gak adil banget, masa dia bisa keliyaran gitu aja sama mantannya. Giliran gue? langsung diambekin.” ucap dia.
                “Jadi… cuma gara-gara itu aja?”
                “Gak gampang Nic buat minta maafnya.”
                “Gak gampang juga buat ngelupainnya.” Kita berdua senyum kecil. Pertanda kita mengerti tentang apa yang kita bahas. Bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Gilang panik setengah mati. Tugas ini pun selesai atau tidak, wajib hukumnya untuk dikumpul. Dan seperti layaknya pemuda malas pada hakikatnya, Gilang tidak mengumpulkan.
                Pelajaran pun berganti menjadi Sejarah. Bu Ning sepertinya akan masuk agak telat. Diwaktu senggang itu Gilang bercerita kembali tentang keluhannya terhadap Tika. Panjang lebar dia cerita, entah apa yang masuk dipikiran gue. Gue hanya pendengar, bukan pengerti.
                Bu Ning akhirnya masuk kelas. Gilang tidak melanjutkan kalimat yang dia katakan. Semua anak terdiam untuk memulai pelajaran. Bu Ning mengucapkan salam dan permintaan maaf karena dia telat datang untuk mengajar. Kami pun menyalami kembali dan memaafkan kesalahan yang seharusnya, selalu dilakukan oleh guru-guru lain.
                Bu Ning mengatakan bahwa jam pelajaran ini tidak digunakan sebagai jam belajar, melainkan jam kelas. Memang, Bu Ning adalah Wali Kelas gue. Sisa jam pelajaran yang tinggal 20 menit lagi itu pun dirubah menjadi jam Tata Kelas.
Operasi Semut dilakukan dengan tiba-tiba. Sampah-sampah yang berserakan dikolong meja, pojok-pojok kelas, entah kotoran apapun yang kita dapatkan dikelas wajib untuk dibuang. Merapikan posisi meja dan bangku, agar sejajar dengan barisan samping dan juga depan.
Setelah semuanya rapih dan bersih. Bu Ning mengisyaratkan kita untuk mengatur ulang posisi tempat duduk kita. Gue dan Gilang sebenarnya gak setuju dengan apa yang Bu Ning rencanakan. Karena salah satu dari kita tidak ada yang berani mengucapkan, terpaksa kita menerimanya.
Setelah keputusan dibuat, gue dan Gilang “sengaja dibuang” kebagian yang bukan habitat asli kita. Ya, didepan. Sesaat kita duduk didepan, Gilang berkata,”Nic, ntar kita sekongkol sama cewek yang duduk dipojok belakang itu aja.” Gue mengiyakan perkataannya, karena gue setuju. Gue juga gak mau, beradaptasi dengan lingkungan yang gak gue suka.
Seusai pelajaran Sejarah, gue dan Gilang bergegas melakukan negosiasi pertukaran tempat duduk yang ilegal. Cewek-cewek yang menjadi sasaran kita mendengarkan dengan seksama apa alasan kita untuk memilih tempat duduk yang mereka tempati sekarang.




Kita sedikit menghasut mereka, memberi alasan bahwa tempat duduk yang mereka tempati ini konon punya penghuni yang sangat tertarik dengan perempuan. Entah mengapa mereka betul-betul percaya dengan apa yang kita sampaikan. Mereka dengan cepat menyetujui permintaan kita.
Gue dan Gilang akhirnya kembali ke posisi belakang, bertukar tempat dengan cewek-cewek tadi. Bedanya, kita sekarang berada di pojok. Ya, pojok belakang yang menjauhi pintu masuk kelas. Ada satu lagi yang beda. Depan gue bukan Maliq dan Rito. Ada Kasha dan juga teman sebangkunya, Nanda.

***

Hari berikutnya, salah satu hari yang tidak menyenangkan buat gue. Untuk pertama kalinya Gilang gak masuk dengan alasan sakit. Gue pun duduk sendiri. Gue merasa hampa. Gak ada yang bisa gue ajak ngomong panjang lebar seharian.




                Pelajaran dimulai dengan Kimia, pelajaran favorit gue (waktu itu) karena kerjaan kita cuman mencatat. Banyaknya materi yang disampaikan lewat proyektor OHP, mau gak mau harus kita salin dilembar buku. Penilaian dari guru Kimia pun juga berdasarkan banyaknya catatan yang kita catat.
                Jujur, mata gue gak bisa melihat papan tulis dengan jelas. Memaksa gue untuk maju kedepan untuk mencatat apapun dipelajaran apapun. Gue biasanya agak malas mengikuti pelajaran. Tapi untuk kali ini gue ikuti dengan serius, karena gak ada teman bermain.
                Gue pergi kedepan membawa pulpen beserta buku tulis. Duduk bersila, menghadap papan, mencatat semua ilmu yang ditampilkan. Selang beberapa menit, sesuatu terjadi dibelakang.
Terdengar bunyi bangku bergeser. Langkah sepatu, terdengar pelan. Duduk dia disamping gue. Gue sempatkan waktu untuk melihat. Ternyata, Nanda. Setelah melihat dia siapa, gue melanjutkan mencatat. Beberapa tulisan yang kurang jelas, buat gue bingung..
“Itu bacaannya apa sih..” gumam gue sendiri sambil berpikir.




“Mana? Oh… itu ionisasi..” jawab dia. Gue menoleh. Ya daripada gue bingung, gue tulis kata tadi sebagai ionisasi. Gue melanjutkan mencatat. Gak lama…
“Ih itu apaan sih bacaannya.” gumam dia sendiri.
“Mana?” respon gue.
“Itu…. Ikatan tersebut adalah ikatan kov..”
“Kovalen itu mah.” Nanda nunduk, melanjutkan catatannya.
Jam pelajaran selesai, Bu Guru memita kita untuk menyelesaikan catatan kita di pertemuan selanjutnya. Gue pun kembali bangku. Hampa banget gak ada Gilang. Gue biasa ke kantin bareng dia. Membeli apapun yang kita suka.
“Eh kampret, lo pake acara gak masuk sih.” chat gue ke dia. Belum di read, buat gue bosan. Gue ambil headset dari dalam tas, mendengarkan lagu, membuang jenuh. Tiba-tiba…
“Nic, Gilang gak masuk kenapa deh?” tanya Nanda, memutar badannya kebelakang.
“Emm.. katanya sih sakit, Nan.” jawab gue.
“Oh gituuu.. terus lo ngerasa sendirian dong seharian..” dia balas tanya. Gue mengangguk.
“Nic, pinjem hape dong.” tanya dia. Gue mengangguk, menatap matanya. Jempolnya mahir sekali mengutak-atik beberapa aplikasi dihape gue. Gue sesekali melihat apa yang dia buka, selebihnya gue melihat keadaan sekitar.
“Nic… yang ini ganteng ya..” ungkap dia sambil menunjukkan sosok lelaki di social media gue.
“Mana?... oh dia tuh adek kelas gue, Nan.” jawab gue. Nanda mengangguk perlahan, lalu melanjutkan “mencari” cowok ganteng dihape gue.
Dia cukup lama memainkan hape gue, kira-kira sudah 7-8 lagu berbeda sudah gue dengar daritadi. Bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. Hape gue dikembalikan olehnya, headset gue lepas sambungannya. Kita belajar seperti biasa.

***

Lagi-lagi hujan besar menerpa wilayah sekolah gue di detik-detik akhir pelajaran. Siang yang panas berubah menjadi gelap gulita lengkap dengan kilauan kilat dan petir yang menyambar dari segala penjuru.




Pelajaran Bahasa Inggris pun selesai, Pak Guru dengan cepat membereskan barang bawaanya kedalam tas kerja miliknya. Kalau hujan seperti ini, gue paling males buat beres-beres duluan, yang ujungnya pulangnya bakal belakangan karena kendala cuaca.
Mie kuah bisa jadi solusi cerdas dicuaca seperti ini. Bergegas gue kekantin, membawa hape dan uang seadanya dari dalam tas. Pergi lah gue ketempat langganan gue. Mi kuah dengan telur rebus dan satu cabai hijau dipotong kecil-kecil, es teh sebagai penawar pedas dan panas.
Gue memilih tempat duduk tepat didepan kios penjual. Sambil menunggu, main hape bisa jadi penghilang penatnya belajar. Gak lama, Pak Oji datang. Dia adalah guru bidang Komputer, dia juga mengajar kelas gue.
Sedikit tentangnya, Pak Oji adalah guru yang suka bersosialisasi sama anak muridnya. Yang akhirnya, sifat bawaan dia seperti anak menengah atas pada umumnya saat mengajar. Sifat santainya itu, buat kita merasa dia itu seperti kawan sekelas.
“HEEEEHHHHHH….” bentak dia sambil menghentakkan tangannya yang memukul meja. Gue kaget, hape gue jatuh.
“Ngapain lo?” lanjutnya.
“Lagi nungguin mie pak..” jawab gue.
“Kok kamu gak mesenin bapak mie juga?”
“Lah saya mana tau bapak mau makan mie juga…” jawab gue sambil mengambil hape dibawah.
“HEEEEEEE EEEEHHHH” bentaknya lagi. Sehabis membentak gue, dia pergi ke kios penjual yang sama kaya gue. Memesan mie, lalu duduk didepan gue persis. Mie kuah pesanan gue telah datang, es teh-nya juga sudah siap.
“HEHHH GAK SOPAN KAMU YAH!” bentak dia lagi.
“Kenapa lagi sih pak yaAllah…”
“Tungguin dong, mie bapak belom dateng.”
“Iyadeh pak.” jawab gue. Mie kuah Pak Oji yang belom kunjung datang, buat gue menunggu lagi datangnya sesuatu yang kali ini bukan punya gue.
“Kamu udah punya pacar belom?” tanya dia. Pertanyaan paling random yang pernah gue dapet dari guru.
“Haaaahhh?” kaget gue mendengar apa yang Pak Oji ucap barusan.
“Kamu kenapa? Ngeliat HANTUU??!!” bentaknya.
“Kaget saya pak…. Tadi ada kilat disana..” alasan gue sambil menunjuk kearah belakang Pak Oji. Pak Oji menoleh kebelakang, lalu kembali menghadap ke gue.
“Kamu tuh kalo jomblo, bilang ke bapak aja. Nanti bapak cariin yang bener-bener… behhh…” katanya sambil menunjukkan gerakan melengkung-lengkung seperti gitar spanyol dengan kedua tangannya. Gue diam saja sambil menunjukkan tatapan meledek terhadapnya.
Mi kuah pesanan Pak Oji akhirnya datang. Gue bersyukur, akhirnya celotehan kurang jelas Pak Oji ada ujungnya juga. Dari kejauhan, nampan dibawakan oleh anak perempuan sang pemilik kios. Dia datang membawakan mie pesanan, lengkap dengan es teh. Sekilas, pesanan Pak Oji gak ada bedanya dengan pesanan gue. Bedanya, punya gue menuju ke proses pendinginan.
“Makasih ya, Mbak.” ucap Pak Oji.
“Ohiya pak, sama-sama.” jawabnya. Senyum lalu pergi.
“Eh, tunggu dulu Mbak!” sontak Pak Oji memegang tangan si Mbak tadi, menyuruh untuk tidak pergi dahulu. “Kalo boleh tau, namanya siapa Mbak?” tanyanya.
“Tari, pak.” Jawabnya singkat.
“Kamu mau gak jadi pacarnya dia?” tanya Pak Oji, sambil menunjuk tepat kearah muka gue.




Gue kaget, beribu kaget. Gue gak tahu. Gak ada kemaslahatan sama sekali didalam kalimatnya tadi.
“Ih si bapak apaan sih.” risih Tari dengan nada cepat. Yaiyalah, risih. Siapa juga yang gak risih. Gue menunjukkan gesture jari telunjuk membuat garis miring di dahi sambil menyipitkan mata.
Pak Oji menoleh kearah gue. Tangan gue dengan cepat kembali ke posisi awal, sebelum Pak Oji melihatnya. Gue pun tersenyum kearahnya, kemudian mengangguk cantik dua kali.
“Eh Nico, kamu mau gak sama dia? Pinter loh bisa masak juga. Nanti kalo pacar kamu gak bisa masak, kamu bisa mati tau gak.” KEJI. Sungguh keji apa yang dikatakan Pak Oji.
“Saya masih punya ibu yang lebih sayang saya, pak.”
“Dasar anak mami…” cetus Pak Oji.
“Mbak-nya cabut aja… daripada digangguin sama Pak Oji mulu…” gue menyuruh Tika untuk cepat-cepat menyingkir. Dengan sigap ia pergi.
“Ah kamu nih… bapak cariin pacar aja kamu gamau..” katanya sambil melahap mie.
“Yaiyalah pak…” balas gue sambil meniup mie tadi.
“HAAAAAHHHH… HAAAAHHHH… HAAAHHH….” Pak Oji kepanasan. Mie super panas yang baru aja dipesannya mungkin dimasak dengan lahar gunung.
                “BAPAK KENAPAA PAAAKK!!!” tanya gue (pura-pura) panik. Sekejap dia meneguk es teh setengah gelas. Menghela nafas. Lalu..
                “Kamu tau gak, bapak tadi kenapa?” tanya Pak Oji.
                “BAPAK KENAPAA PAAAKK!!!”
                “GAUSAH TEREAK TEREAAAKKK!!! HAAAHHH!!” gue diam, lanjutin makan mie. Dimendung segelap matinya lampu.

***

                “Nic, main xbox dirumah gue ya.” 07.08 a.m.
                “Siangan aja jam 11an, gue ditinggal nyokap alhasil sepi rumah.” 07.08 a.m.
                “Woy…” 08.46. a.m
                “P” 9.59 a.m.
                “P” 9.59 a.m.
                “P” 9.59 a.m.
                “P” 9.59 a.m.
                “P” 9.59 a.m.
                “TIDUR MULU LO BEGO.” 10.34 a.m.




                Kalimat diatas adalah alarm di hari sabtu ini. Jujur aja, gue lagi pengen males-malesan dirumah. Leyeh-leyeh itu asik. Chat dia cuman gue read. Nyokap gue menyuruh gue untuk mandi dan sarapan. Mungkin sudah bukan sarapan lagi namanya jika jam pukul 10.45 pagi.
                “Nic, lo dimana?”
                “p”
                “p”
                “P”
                “p”
                “p”
                “Gue udah dirumah ricko nih”
                “Ada kemal, abi sama mahdy nic.” Chat Ipan ke gue yang baru gue read setelah selesai mandi.
                “Iya bentar gue makan dulu.” bales gue.
                “Iyaudah”
                Cepet-cepet gue ke dapur, ngambil makan. Nyokap nanya, kenapa gue cepet-cepet? Emangnya mau kemana? Gue menjelaskan ke dia bahwa Ricko mengajak gue main kerumahnya. Nyokap ngijinin. Setelah itu, gue pergi menuju rumah Ricko si Saudara Tanpa Ikatan Darah. Sampai digerbang, gue disambut hangat oleh sang tamu, Ipan.
                “Lo ngapain diluar pan?”
                “Gue nungguin Kemal tadi katanya dia kesini mau ngajak cewe…”
                “Oh gitu.. yang lain?”
                “Udah pada didalem, lo masuk aja sana..” gue masuk kerumah. Aura-aura rental udah terdengar dari luar. Sorak-sorak stadion, celotehan komentator virtual itu makin terdengar nyaring. Ricko sedang bermain dengan Mahdy disofa, Abi sibuk dengan hapenya, tiduran di lantai.
                “GOOOOOLLLLL LU MAMPUSSSS LUUUUU!!!” sorak Ricko.
                “Hoki anjir.” balas Mahdy.
                “HOKI APAAANN!!”
                “STARRRTTT BEGEEE LAMA LUUUU!!”




                “BERISIK LU PADA.” teriak gue.
                “GAK SOPAN HEH TERIAK TERIAK DIRUMAH ORANGGG” sahut Ricko.
                Gue menanyakan keadaan rumah yang begitu sepi ke Ricko, dia menjawab bahwa dia sejak tadi pagi sudah tinggal orang tua + adiknya jalan-jalan. Dia tidak ikut karena kesiangan bangun. Dia pun masih sempat menyinggung-nyinggung gue soal acara ulang taun Budi.
                “Bodo amat.” jawab gue sewot.
                “Yah jangan gitudong mas Nicooo ahahahahah…” jawabnya.
                “AAAHHHHH MAMPUSSS GOLLLL SERI ANJIR SERIIIII AHAHAHAHAHAHAHAA” sahut Mahdy.
                “Ah tai ngomong sama lu malah bikin gue cupu.”
                “Mampus!! hahahaaa..” Seri. Ricko memaksa tanding ulang. Mahdy setuju. Mereka berdua pun bermain kembali. Perhatian gue mengarah ke Abi.
                “Bi gue pinjem perut lo ya buat bantalan.”
                “Terserah..” gue bersandar diperut Abi yang super besar.
                “Eh itu kenapa Ipan diluar dah? Gak masuk-masuk dia daritadi.”
                “Dia lagi nungguin Kemal. Si Kemal mimjem motornya dia tadi.”
                “Lah Kemal bukannya gabisa bawa motor?”
                “Gatau, palingan juga rusak bentar lagi ehehehe..”
                Gue, Ricko, Kemal, Mahdy, Ipan dan Abi adalah teman sekomplek, satu SD. Setelah itu kita gak pernah berada dilingkup belajar yang sama lagi. Momen-moment akhir pekan seperti ini kadang kita sempetin buat ngumpul. Ipan masuk kedalam…
                “Oy bro, si Kemal mau kesini nih tapi bawa pacarnya.”
                “Ah ngapain sih dia bawa-bawa.” gemas Ricko.
                “Gatau gue, yang penting motor gue balik dulu..” jawab Ipan.
                “Iyaudah tungguin aja didalem, kalo diluar lo makin keling.”
                Permainan silih berganti sembari menunggu Kemal yang tak kunjung hadir. Ricko lawan Mahdy, gue lawan Ricko, Mahdy lawan Ipan dan seterusnya. Ngumpul kaya gini itu asik. Kita semua sepemikiran. Apa-apa nyambung, walau yang tak jelas sekalipun bisa jadi bahan candaan. Apa yang ditunggu, akhirnya datang juga.
                “WOOOOYY BROO!!” Kemal menunjukkan diri dengan pedenya.
                “Kenalin bro, cewe gue.. namanya Wanda.”
                “Hai, gue Wanda…” Wanda memperkenalkan dirinya ke kita, satu persatu menyalami.
                “Mau main xbox juga wan?” tanya Abi ke Wanda.
                “Eh engga lah, dia mau gue anter pulang dulu bi. Pan, pinjem lagi ya motornya ehe…” potong Kemal sekaligus memohon ke Ipan
                “Iyadah…” jawabnya. Kemal pun mengantar Wanda dengan senyum bangga. Entah apa yang dibanggain. Lagi-lagi kita berlima bermain sembari melihat para pemain yang kalo menang sombong, kalo kalah ngeles.
                “HALAAAAAHHHHH TIANGGGG ANJIIIIIRRRR!!!”
                “PELANGGARAAAANNNNNN WOOOYYYY!!!”
                “SUNDUUUULLLLL GAAAANNNN… HALAAAAHHHH!!”
                “GOCEK, GOCEK, ONE TWO, ASEEEKKK, SHOOOTEEENGGG!!! YAILAAAHHH.”
                “PENALTEEEEEEE SEEETTTTTT!!!”
                “CURANG ANJIRRRR WASITNYA.”
                “CROSSINGGGG CANTEEEKKKK!!! ADUUUUHHHH!!”
                “GOL ANJIR GOOOOLLLLL!!!”
                “MAMPUS LUUUU MAMPUSSSS AHAHAHA!!”
                “yah tai offside.”




                Kurang lebih ramainya seperti itu. Gonta-ganti player, team, formasi, dan pemain. Lalu tiba-tiba Abi mendapat pesan dari Ibnu.
                “Pan, lu kenal Ibnu kan? Yang kemaren lusa digigit anjing gila didepan gerobak gado-gado Bang Maul?”
                “Oh dia, kenapa dia?”
                “Dia abis ngeliat Kemal sama cewenya nyemplung ke gorong-gorong.”
                “AH YANG BENER LU BI??? AH ANJIR ITU MOTOR MASIH CICILAN KETIGA ANJIIIIRRR!!”




                “YAAAAAAHAHAHAHAHA MAMPUS LU PAN, BELOM LUNAS UDAH JADI PERKEDEL ITU MOTOR!!” sahut Mahdy.
                “Ah itu bocah….”
                “Yaudah pan, kita ke gorong-gorong aja eahaha… firasat gue dia jatoh di gorong-gorong depan SD.” sahut Ricko.
                “Iya bener pan, dia jatoh disana.” jawab Abi setelah menanyakan lokasi si Kemal jatoh kepada Ibnu.
                “Yaaa… yaudahlah, gue khawatir sama motor gue.”
                “GOBLOG, Kemal gimana dong?” tanya gue.
                “Nyemplung aja sono kelaut.” Jawab Ipan.
                Kita berlima pergi dengan jalan kaki, karena gak terlalu jauh juga tempatnya. Selangkah dua langkah, terlihat Ibnu tengah berjalan menghampiri kita.
                “PAAAAANNNN!!!” teriak dia dari kejauhan…
                “WEEYYYY NUUU… MOTOR GUE GIMANAA..”
                “Oh itu motor lu pan? Motor lu udah gue standar-in tadi. Stang kanan kiri macet semua, jadi gabisa belok. Lampu depan retak-retak, spion kanannya copot, untungnya gak nyemplung got motor lu. Cuman si Kemal yang kecemplung got huahahahahaaaa..”
                “Cewenya gimana nu?” tanya Mahdy.
                “Cewenya udah cabut naik taksi barusan, keki ples ilfil kaliya uahahaha…”
                “Yaudah nu balik lagi lah ke SD nemenin kita ngeliat motor gue.”
                “Ngeliat Kemal pan….” celetuk gue.
                “Mati aja dia.” Sesampainya disana, kita kaget. Si Kemal masih di got, tengkurep. Merintih kesakitan…
                “HADUUUUHHHH”
                “HADUUUUUHHHH”
                “HADUUUUUHHHH” ucap Kemal perlahan sambil memegang betisnya.




                “Eh tolongin bege kasian dia…” ajak Mahdy kepada kita.
                “Lo aja. Gue gamau.” jawab Ipan, lalu gue menjawab dengan hal yang sama dan iikuti oleh Ibnu, Abi dan Ricko.
                “Yaudeh, gue juga engga… Mal… lo berdiri sendiri ya, eh jangan gerak dah.. mau difoto dulu sama Abi wuahahaha…”
                Akhirnya Kemal berdiri dengan sendirinya, untung aja rumahnya gak jauh dari sini. Dia masih bisa pulang jalan kaki. Walaupun sebelumnya, dia sempat meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Mau gak mau Ipan memaafkannya, walau biaya servis motor pada akhirnya lebih nunggak dibanding biaya belinya.
                “Lo udah tau gabisa naik motor, gaya-gayaan.” cemooh Ipan ke Kemal.
                “Lo udah tau dia gabisa bawa, dipinjemin.” balas Ricko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar