Pagi menjelang.
Gue dikelas dengan semua bangku masih rapih diatas meja. Gue shuffle-play lagu yang ada dihape.
Terpulaslah gue mendengar lagu yang membawa kantuk & kesedihan yang sangat
dalam.
“Wey, lu gak belajar buat ulangan?”
kata Gilang yang bikin gue bangun.
“Ulangan apaan emangnya hari ini?”
bales gue setengah sadar.
“Sejarah, Nic. Gimana sih lu? Lu gak
belajar? Lupa apa gimana? Kalo gak ada remed gimana?” kata dia rese.
“Lu sendiri belajar apa kaga?” bales
gue sewot.
“Kaga. Kan kalo lu gerak, gue gerak.
Hee…” kata Gilang. Gilang ini sifatnya emangnya kaya gitu. Males. Mesti gue
dulu yang usaha, abis itu dia tinggal “copy”. Tapi, sifat gue sama kaya dia.
“Makannya Lang, jangan pacaran
mulu.” sewot gue.
“Iya Nic, hehehehe… lagian dia manja
mulu sih, gue mah musti peka aja.” kata dia sambil beranjak pergi meninggalkan
bangkunya.
“Oh yaudah.” bales gue sambil mengangguk. Jealous-nya gue sama Gilang soal asmara
itu gak gue pikirkan
sekarang ini.
Ulangan
Sejarah yang dibilang Gilang itu membuat gue belajar mendadak buat persiapan.
Gilang yang tadi asyik
ngobrol sama yang lainnya
tiba-tiba datang membawa buku catatan salah seorang cewek dikelas.
“Nih Nic, belajar dari catetannya
dia aja. Catetan dia lebih lengkap daripada punya kita.” kata dia. Gue gak tau itu buku
siapa. Gue liat cover coklat dengan label putih besar bertuliskan Ananda Latif.
Biasa dipanggil Nanda dikelas. Rapih tulisannya, lengkap juga catetannya. Tapi
gue belum kenal dekat sama dia.
“ASSALAMUALAIKUUUUUUMMM!!!”
terdengar suara pemuda diluar kelas. Pemuda tadi membawa tas laptop. Langsung
masuk ke kelas, duduk ditempat guru dan memasang laptop untuk membuka
presentasi powerpoint lewat LCD.
“Hai anak-anak sekalian, nama saya
Chandra. Saya menggantikan tugas Ibu Ning sebagai guru Sejarah kalian.
Kebetulan Ibu Ning sedang mengikuti Ujian Guru untuk beberapa waktu. Jadi, saya yang gantikan,
panggil saya Pak Chandra aja ya.” kata dia ramah.
“Ibu Ning memberi saya perintah kalo ulangan
dibatalin dulu, jadi saya akan mengajarkan lewat powerpoint buat bab
selanjutnya, yaitu Perang Dunia II. Untuk kali ini kalian gak usah mencatat
ya, cukup baca dibuku aja.” lanjutnya.
“Yah elah, tahu gitu gue gak
minjem buku orang.” gumam Gilang.
Cara mengajar Pak Chandra yang asik dan santai membuat anak didiknya semakin
kurang ajar terhadapnya. Padahal, ini adalah pertama kalinya dia mengajar
dikelas.
Diakhir
mata pelajarannya, dia memberi kita nilai tambahan berupa kuisioner. Yang benar
dapat nilai, salah dilecehkan. Pembawaannya yang sabar kadang dikhianati oleh
murid-murid kurang perhatian seperti gue, Gilang, Maliq dan lainnya.
“Setelah pembahasan kita yang tadi,
mungkin diantara kalian ada yang belum mengerti. Adakah yang ingin bertanya?”
tanya Pak Chandra.
“……..” Krik. Krik. Krik. Gaada yang
sautin pertanyaan Pak Chandra sama sekali. Dengan inisiatifnya, dia mulai
langsung kuisioner tersebut.
“KAPANKAH PERANG DUNIA II DIMULAI?!!”
tanya dia sedikit
lantang.
“SAYA PAK! SAYA!” Gilang mengajukan
diri untuk menjawabnya.
“Yak, kamu yang dibelakang. Nama kamu
siapa? Nomor urut berapa?”
“Nama saya Gilang, nomor urut 6.
Perang Dunia II itu mulai pada tahun 1942 pak!”
“Sampai kapan?”
“Sampai selesai.” Krik. Abis. Niatan
buat cari pehatian berubah menjadi cari permasalahan. Gue ketawa kecil disini
liat muka Gilang yang gak berhasil jadi pusat perhatian.
“Kamu bener, tapi kamu gak lucu.”
canda Pak Chandra yang diikuti oleh cemoohan dari berbagai sumber suara di
berbagai arah. Gilang yang kelihatannya kehilangan harga diri coba untuk tidak
salah tingkah terhadap kejadian tadi. Nunduk malu. Rasain. Lagian gak jelas.
Abis itu, Pak Chandra melontarkan petanyaannya lagi…
“Dimana Perang Dunia II itu
diadakan?” Diadakan. Sungguh aneh mendengar bila Perang Dunia II itu diadakan.
Pertanyaan aneh kaya gini membuat manusia-manusia kurang perhatian, makin
gencar cari perhatian. Gak lama gue duga, Maliq angkat tangan.
“Saya pak! Saya! Saya Maliq nomor
urut 20. Perang Dunia II diadakan di….. tanah lapang.” Jawaban freak keluar gitu aja dari Maliq.
“Kamu kira kamu itu lucu?” sewot Pak
Chandra. Lagi-lagi, krik. Sorakan sana sini berdatangan dari penjuru arah mata
angin buat Maliq. Maliq sama kaya Gilang. Gak jelas. Rasain. Gue getok kepala
dia iseng pake pulpen sebagai salah satu bentuk peghargaan gue ke dia, yaitu
sukses bikin kelas ketawa dan dia sebagai bahan candaannya.
Bel pun berbunyi tanda berakhirnya
pelajaran Sejarah
sekaligus istirahat bagi kami. Pak Chandra pun membereskan barang-barang miliknya, memberikan salam, kita menyalami
balik, lalu pergi meninggalkan kelas diikuti oleh anak-anak yang pergi juga.
Gue yang
masih kebawa suasana semalam membuat gue malas untuk makan dan memilih untuk
dengerin lagu aja lewat earphone. Gue
dengerin sambil termenung melihat beberapa bangku mulai kosong. Di lamunan gue
tadi, gue melihat bangku Gilang. Buku catatan Sejarah Nanda belum dikembalikan
sama dia. Bukan tipe lelaki yang bertanggung jawab.
Gue dengan inisiatif pergi ke bangku
Nanda. Ada Nanda, sedang baca novel sambil dengerin lagu pake earphone. Gue pun beranikan diri…
“Nan… makasih ya udah mau dipinjemin
bukunya.” Kata gue sambil taruh bukunya ke meja dia.
“Hah? Kenapa?” kata dia sambil
ngelepas earphone-nya.
“Iya Nan, sama-sama.” kata gue.
“Kok sama-sama?” katanya.
“Hah? Lu ngomong apa?” tanya gue
balik. Nanda pun memberi gue isyarat nyuruh ngelepas earphone yang gue pake. Gue pun ngikutin apa maunya.
“Kenapa, Nic?” tanya dia. Lah. Kok
gue ditanyain kenapa. Gue yang bingung pun menjawab..
“Emangnya gue kenapa, Nan? kata gue.
“Lah?”
Obrolan dua orang bolot ini bikin gregetan kedua belah pihak. Gue pun duduk
dibangku kosong sebelahnya dan bilang..
“Ini
tadi tuh gue bilang makasih bukunya udah mau dipinjemin Nandaaa.” gemes gue.
“Buku
mana?”
“Buku
catetan lu yang iniii!” gemes gue sambil nunjukkin buku yang mungkin dia belum
liat gue taruh bukunya dimeja tadi.
“Loh?
Buku ini bukannya udah ada disini daritadi?” bingung dia.
“Enggak, ini kan tadi
dipijem sama Gilang buat belajar. Eh tapi, gak jadi ulangan. Jadinya ini buku
gue yang kembaliin, gitu.”
jawab gue. Gue liat mata dia yang sedikit berwarna hitam sembap kayak orang abis
nangis semaleman. Gue coba ngerti suasananya. Mungkin pikiran dia lagi kacau.
Atau apapun yang buat dia merasa sedih sampe matanya mirip panda. Gue pergi dan
bilang..
“Makasih
ya Nan, bukunya.”
“Ya,
sama-sama Nic.”
Gue
pasang earphone buat ngelanjutin lagu
yang tadi. Sialnya, lowbat. Mau gak mau mesti gue charge hape ini. Gue colok pake powerbank dan gue tinggalin di atas meja, lalu
gue pergi duduk
disamping Fiyan yang lagi makan. Fiyan ini tipe orang yang kepedean dan juga
pinter, pinter ngeles. Kalo pelajaran matematika itu dia suka, suka tidur.
Tapi
kalo dia diledek-ledek, dia
tidak pernah membalas apa yang orang lain katakan untuknya. Dia lebih memilih
untuk diam dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa yang baginya, paling layak
untuk membalasnya. Tipe orang yang selalu menjadi sasaran empuk panah-panah
cemoohan yang dia sendiri selalu tabah dalam menghadapinya.
“Gimana,
Yan? Enak nasi uduknya?” ujar gue.
“Kenapa
lu? Mau?” tawar dia.
“Enggak deh, makasih.” jawab gue.
Gue bercanda-canda sama
dia buat ngilangin bete.
Satu-persatu teman lelaki kumpul dibangku Fiyan. Dari masuk kelas untuk pertama
kalinya sampai sekarang, bangku sekitar Fiyan selalu ramai, tidak lain tidak
bukan, buat ngecengin Fiyan. Lagi asik ngecengin Fiyan, tiba-tiba Ida dateng
bawa coklat…
“Fiyan, aku boleh ngomong gak?”
tanya Ida yang berdiri disamping gue. Tangannya gemeteran, gue coba pegang
tangannya. Dingin. Tangannya gemeteran dan dingin. Pipinya memerah, pandangan lurus kebawah.
Malu-malu. Gue bisa tebak dia dari sekali liat.
“Tangannya dingin, Yan.” Kata gue sambil memegang tangannya sebentar.
“Kenapa, Da?” tanya Fiyan penasaran.
“Mmm… dari pertama kali kita
sekelas.. aku suka sama kamu.. sikap kamu sama mereka-mereka yang kurang ajar
melulu sama kamu, pasti
kamu gak ngebales..” ungkap Ida sambil nunjukkin kita semua kecuali Fiyan.
“Biarin aja kali, Da. Mereka mah
kaya anak kecil semua.” Jawab Fiyan santai.
Berbagai sorakan kebencian yang kita keluarkan
kepadanya turut memancing kita untuk melayangkan berbagai benda asing yang
terlempar gitu aja kearah Fiyan saat dia menilai kami semua seperti anak kecil.
Tutup
pulpen, pulpen, pensil, rautan, rautan yang ada ampas pensilnya, buku tulis,
buku gambar, buku cetak, spidol papan tulis, botol re-fill spidol, penghapus
papan, charger-an hape, sampe powerbank melayang gitu aja ke Fiyan. Dan dia hanya bisa
berserah diri kepada-Nya.
“Tapi gimana ya, Yan… aku udah terlanjur
suka sama kamu banget.” Kata ida sambil bersihin rok-nya yang kena ampas pensil
yang gak sengaja nyasar ke dia. Tiba-tiba..
“Tapi.. Da… aku gak suka sama kamu,
kita gak se-level, kamu bukan tipe aku. Lagi pula, aku mau fokus buat ngerjain
pr yang mau dikasih sama guru nanti.” Bales Fiyan. Apa banget sih alasan yang
dikeluarin manusia ini? Gue ngerasa dunia mulai kebalik. Perempuan se-sweet Ida yang udah berani banget
nyatain didepan anak kelas, ditolak mentah-mentah sama manusia penerima segala
siksaan duniawi, Fiyan.
Ini tuh
apa? Kenapa dunia kaya gini. Sebagian besar cowo yang ngelilingin Fiyan, diam.
Beberapa termasuk gue hilang akal sesaat sambil tertawa kecil menertawakan
alasan Fiyan yang masuk juga enggak sama akal. Namun gue kembali terdiam.
“Tau dari mana kamu kalo guru bentar
lagi mau ngasih pr? Tanya Ida.
“EH DONGOK! LO TUH HARUSNYA
BERSYUKUR! KARENA MASIH MAU ADA YANG MAU SAMA LO! GUE SUKA SAMA LO KARENA GUE
KASIAN SAMA LO!” Ida teriak. Serius. Ini gue mau ketawa lepas. Ngakak asli.
Sayangnya gue mesti tahan tawa gue lagi.
“TAU LO BODOH!” celetuk Maliq. Seketika Ida
nangis. Kasihan juga sih. Orang dateng-dateng mau bicara tulus, malah digituin
sama makhluk jahanam. Fiyan pun terdiam. Hening semua. Ida menangis sambil
berdiri. Karena gak tega, gue tawarin dia duduk, dia menolak. Gue bilang ke
dia..
“Da, coklat lo buat gue ya?”
tanya gue. Dia langsung lempar coklat itu kepangkuan gue, lalu dia langsung
duduk kebangkunya. Coklat tadi cepet-cepet gue kantongin, biar gak dimintain sama yang lain.
“PARAH LOOOOO ANAK ORANG
NANGIS GARA-GARA LO YANNN!”
“MAU
DIKATA APASIH LOOO!”
“TEGA LOOO. LO GATAU DIA
ANAKNYA SIAPA??”
“LO PUNYA NYALI BERAPA NOLAK DIA GITU
AJAA!”
“DIADUIN BAPAKNYA, KELAR IDUP LO YAN!”
“RUMAH
LO DIBAKAR NTAR SAMA BAPAKNYA!”
“PULANG, DICEGAT BAPAKNYA LO NTARRRR!”
kalimat-kalimat kaya gini keluar dimulut cowo-cowo yang tau-tau jadi juru
bicara si Ida. Sikap Fiyan? Seperti biasa, diam. Bel pun berbunyi. Tanda
pelajaran selanjutnya akan dimulai. Semua kembali ketempat duduk masing-masing,
mengikuti pelajaran.
Hujan lebat datang disaat
detik-detik bel pulang. Dan disitu, jas hujan gak gue bawa, motor pun masuk
bengkel. Bagus banget. Bel berbunyi. Hujan masih belum berhenti, layaknya rasa
gue ke Anggi.
Alhasil,
hampir satu sekolahan “ngungsi” sampai hujan tenang. Bangku kelas bagian
depan, sudah merapikan tas bersiap untuk pulang sambil menunggu hujan reda.
Belakang? Yang hampir dihuni oleh cowok-cowok butuh perhatian, lagi-lagi
mengerubungi Fiyan. Tapi, gue gak ikut ngumpul. Gue keluar, memandang hujan
yang lebat hebat. Memandang
sesuatu kaya gini buat gue tenang.
“Sendiri aja.” Ucap Nanda yang tiba-tiba datang dari kelas.
“Iya nih.” bilang gue.
“Hmmm enaknya kalo gini itu mikirin
yang dulu-dulu, Nic.” sahutnya. Pernyataan dia yang kayak tadi, bikin gue
bertanya..
“Lo lagi galau ya?” tanya gue sembari
melihat kedua matanya yang masih sembap. Pertanyaan gue tadi gak dijawab sama
sekali olehnya. Dia cuman tersenyum, menunduk kebawah, sambil meneteskan air
mata yang langsung diusap oleh dengan jarinya.
Mungkin
pertanyaan gue yang terlalu frontal, buat gue merasa gak enak sama dia. Gue
minta maaf, namun dia lagi-lagi diam, dan mengangguk tanda setuju permintaan
maaf gue.
Gue
meniggalkan Nanda sendirian diluar dan berkumpul sama komplotan gue di meja
Fiyan. Pas gue masuk kelas, meja dia kosong. Tapi, meja Ida terlihat ramai.
Karena gue kepo, meja itu gue samperin. Ida, duduk bersampigan dengan Fiyan,
lalu dikelilingi oleh massa yang selalu mengkritisi apapun yang Fiyan lakukan.
“Ida, aku minta maaf ya. Aku tadi
cuman bercanda sama kamu.” sesal Fiyan. Ida hanya terdiam dan menangis,
menutupi wajahnya dengan handuk kecil putih yang dia selalu bawa..
“Ida… aku minta maaf ya.” Fiyan pun
memohon, dari raut wajahnya kelihatan kalau dia memang tulus untuk meminta
maaf, bukan untuk bercanda. Tapi, Ida tetap diam.
“Lu sih pake segala bercanda tadi.”
“Tau lu, dasar aneh!”
“ORANG FREAKKK!”
“Gak pandai bersyukur lo, Yan!!”
begitulah hujatan deras yang gue dengar buat Fiyan yang diikuti oleh gelak tawa
lelaki-lelaki rese disekelilingnya. Ida, pun tertawa kecil sambil tersedu-sedu.
Antara bahagia
mendengar celotehan aneh dari teman-teman cowok kelas dan sedih karena dia
ditolak oleh Fiyan. Fiyan melalukan hal seperti biasa, sabar dan tawakkal.
Kejadian ini buat gue sedikit agak bosan. Lagi, gue keluar kelas dan…. Nanda
duduk disamping kelas sambil menatap handphone-nya, dan… menangis. Gue iba.
Serius. Gue samperin dia..
“Lu kenapa, Nan?” tanya gue. Dia tak
merespon.
“Weyyyy, lu kenapa Nan?” tanya gue lagi. Dia gak merespon lagi.
Entah kenapa gue bete petanyaan gue gak dijawab sama sekali olehnya. Gue
beralih ke main hape, dan pasang earphone
sambil stalk sedikit, twitter Anggi. Terakhir gue stalk account-nya, hanya ada satu re-tweet. Namun, banyak re-tweet-an tentang quotes sekarang buat gue penasaran untuk telusuri satu-satu. Salah
satu bunyinya seperti ini..
“By the way, I’m waering the smile you
gave to me.”
Gue kegeeran, mendadak seneng,
senyum-senyum sendiri. Gue merasa kalo dia memang masih memikirkan gue. Gue
yang “cari perhatian” memasang status BBM yang sama seperti ungkapan yang dia re-tweet tadi. Sama persis. Gue yang seperti orang kasmaran, dikagetin..
“Hey!! Senyum-senyum sendiri lo. Lagi hujan ntar kesambet
loh!!” terdengar suara cewek.
“Nggi?” bingung dia. Gue yang gak sadar,
menganggap Nanda sebagai Anggi. Gue malu banget…
“Eh, Nanda... gue kira lo siapa..” bilang
gue.
“Anggi itu siapa, Nic? Kayanya
dikelas gaada yang namanya Anggi deh.” serunya.
“Emang gak ada, kepo lo.” jutek gue.
“Yeee….” bales dia. Mata dia yang
daritadi gue perhatiin seperti seorang
cewek yang ingin mencari kebahagiaan dikala awan kesedihan terus menerjang
deras dihatinya. Sembap yang membesar, bekas air mata yang keluar, bahkan ada bagian yang
belum terusap olehnya, pipinya lembap dibahasi air mata yang keluar dengan
alasan yang menusuk hati. Gue berpikir seperti itu. Lalu…
“Nic, kalo cowo abis putus cinta
itu… biasanya dia ngapain ya?” tanya dia penasaran. Gue kaget. Kenapa tiba-tiba dia nanya kaya
gini. Gue yang sedikit kepo, bertanya…
“Lo abis putus sama pacar lo?” tanya gue.
Dia mengangguk pelan-pelan sambil menaruh jari telunjuk didepan bibirnya tanda
dia menyuruh
gue untuk memelankan suara, ataupun lebih baik diam.
“Entah, kalo gue biasanya… dengerin
lagu galau, Nan.” jelas gue.
“Ohhhh cowok biasanya kaya gitu ya…”
“Enggak tau juga deh, mungkin beda-beda juga..” bales gue. Matanya yang menyipit
bekas nangis tadi
perlahan melebar dan mengangguk tanda bahwa dia mengerti.
“Mungkin gak sih Nic, dia… masih
mau… sama mantannya?” tanya
dia terbata-bata. Tiba-tiba air matanya keluar sedikit tanda dia masih
mengharapkan cowoknya buat kembali.
“Yaaa…” jawab gue bingung sambil memiringkan kepala. Aslinya gue
itu kepo abis sama masalah Nanda. Tapi, gue takut kalo Nanda nanti akan semakin
sedih dan terlarut-larut. Kasihan juga ngeliat dia kaya gini.
Tapi mau
gimana lagi, gue bukan seseorang yang berhak tahu. Karena gue tahu, apa bedanya
orang yang cuman ingin
tahu saja, atau yang
benar-benar peduli sama cerita kita. Hanya sebatas kepo, gue lebih
memilih diam dan topik lain agar tidak canggung disituasi ini. Dan gue pun…
“Kalo cewek galau, dia ngapain Nan?”
“Panjang ah jelasinnya. Entar lo pasti bakal
tidur dengerin cerita gue hahahah.” jawab dia. Hujan yang daritadi gak selesai-selesai
membuat
beberapa anak disekolah merasa geram dan ingin cepat pulang. Ada yang jalan pakai jas hujan, dijemput pakai mobil, jalan keluar sekolah pake payung, naik motor pake
jas hujan juga, ada juga yang terobos gitu aja. Gue mencoba menghibur dia
sekaligus menghapus kesendirian yang gue alami.
“Nan, lo gak mau
pulang?” canda gue.
“Pengen lah, tapi kan
hujan. Gue gak bawa apa-apa buat nyusurin hujannya. Gue hari ini ngangkot,
biasanya dijemput Bokap, tapi dianya gabisa karena lagi sakit.” jawab dia.
“Ohhh gituuuuu..” kata gue sok ngerti. Tengah
asyiknya kita ngobrol terdengar bunyi kamera hape dan cahaya flashlight menyilaukan mata Nanda. Gue pun menoleh ke belakang.
“Yahelah, flash pake nyala segala.” gumam Gilang. Ya. Gue abis kena candid sama manusia super iseng macem dia. Dasar, amatiran. Ngambil
candid aja gak bisa. Norak. Gue biasa
aja, soalnya kalau gue
nyalahin Gilang, nanti dia bakal mengira gue “salah tingkah”. Ntar gue
dipojokkin, disejajarkan derajat gue sama Fiyan. Gue gak mau dijadikan bahan
ledekan. Gue lebih memilih untuk lanjutin obrolan gue dengan Nanda. Dan Gilang,
duduk lesehan dilantai sambil main hape.
“Dia nganggu banget ya, pasti bakal
dijadiin bahan ejekan tuh foto.” kesel gue.
“Yaelah gitu aja ngambek.” Jawab
Nanda santai. Gila. Dia santai banget. Kalah gue sama Nanda. Ya tapi emang sih,
gue lebay banget. Digituin aja masa ngambek. Dasar payah.
“Kalian berdua aja sih mangkannya
pengen gue candid, tapi flash-nya malah
nyala…” sesal Gilang.
“Eh, Nic. Lo jangan godain
Nanda, ntar ketahuan pacarnya, dicegat lo gak bisa pulang. Hahahaha.” ledek dia gembira.
“Gak takut gue sama pacarnya.” canda
gue. Nanda yang gak keliatan bawa perasaan, hanya tersenyum sambil menutup
bibirnya. Tipe cewek yang tegar, hanya untuk beberapa waktu. Kami bertiga
semakin akrab dengan selalu bertukar cerita hingga akhirnya hujan lebat menjadi
rintikkan-rintikkan tanda awan telah melepas semua kandungan airnya.
Terdengar
bunyi notification hape Gilang. Gue
yang kepo sama chat dia mencoba untuk melirik sedikit siapa sebenarnya yang
nge-chat dia. Tika. Pacar si Gilang,
beda kelas. Chat itu bunyinya,”Lang, pulang yuk udah reda hujannya.” Gilang
yang “gerak cepat” itu langsung berpamitan ke gue dan Nanda. Berbondong-bondong
siswa-siswi segera pulang memanfatkan kondisi hujan yang reda.
“Nic, pulang aja yuk. Disini gelap.” minta Nanda.
Gue mengiyakan permintaannya. Kita ambil tas, turun bersama. Sekolah pun
menjadi agak sepi. Kita pun pulang, sebelum fajar benar-benar tenggelam.
***
Besoknya,
gue masuk kelas seperti biasa dengan keadaan kelas yang masih kosong. Gue
hampir selalu datang lebih awal. Gak lama kemudian, Fiyan dateng dengan raut
muka yang menggambarkan kalau dia sedang senang.
“Cie..
dateng-dateng senyum!! Lo kenapa deh?” sahut gue dari bangku. Fiyan pun
membalasnya dengan senyuman lalu pergi begitu saja setelah meninggalkan tas-nya
dibangku. Gue dikacangin sama dia. Oke. Gak apa-apa. Gue yang ingin mengusir
bosan cuma bisa main hape aja. Gilang pun tiba-tiba dateng…
“Nic,
ada berita bagus.” kata dia langsung duduk disamping gue.
“Apaan?”
“Gua
mau ngajakin Tika nonton film nih.”
“Dimana?”
“DI
MESJID.”
“Di
bioskop lah bego. Rencananya mau nonton Resident Evil. Gue mau ngajak lo Nic.”
“Bentar-bentar…
lo ngajak gue nonton.. dan lo ngajak Tika juga?”
“Ya….
emangnya kenapa?”
“Ya…
gue bisa jadi nyamuk diantara kalian, mau apa kalian abis nonton tiba-tiba
gatel bentol-bentol gitu?”
“Ya
gak gitu juga, Nic.”
“Yaudah,
palingan gue juga nonton sendiri, Lang.”
“Lo
ikut aja sih atau lo ajak siapa gitu yang sekiranya lo sama gue kenal… ajak
Nanda aja sana kemaren kan kalian deket banget ehehehe.”
“Ah
gak ah baru kenal masa udah ngajak nonton nanti gue dikiranya aneh-aneh..”
“Oke
ntar gue deh yang bilang ke orangnya.”
“Yaudah
terserah lo deh...” bales gue. Gilang orangnya memang kaya gitu, suka maksa.
Sore
sehabis pulang sekolah gue langsung menuju kamar tidur. Sambil tiduran, gue
main hape sebelum mandi. Media sosial gue telusur hanya untuk menghilangkan
penatnya kegiatan disekolah seharian. Dan tanpa gue duga, Anggi menelepon gue.
Gue kaget. Tumben banget. Baru kali ini gue ditelpon Anggi.
“Halo..”
angkat gue.
“Eh
Nic, lo lagi sibuk gak?” jawab dia.
“Hmmm
enggak Nggi, emangnya kenapa?”
“Gue
mau ngundang lo ke acara ulang tahun, Nic.”
“Hah?
Bukannya ulang tahun lo masih beberapa bulan lagi deh, Nggi.”
“Bukan
acara gue, Nic.”
“Trus?”
“Ulang
tahunnya Budi.”
“HAHHHH?
BUDI ULANG TAHUN???” jawab gue kaget. Buat apa coba, ngundang gue ke acara
ulang tahun si kampret. Gila, gue diajak ke ulang tahun mantan pacarnya.
“Lo…
ngapain ngundang gue Nggi? Gue aja gak kenal sama dia..” lanjut gue.
“Gue
tau, Nic. Tapi gue cuma pengen lo ikut aja?”
“Pokoknya
nanti pas diacara ulangtahun lo disamping gue aja ya, Nic.” Kata dia dengan nada
ngerayu.
“Nggi,
lo gimana sih. Gue gak janji bisa dateng deh. Gue gak enak dan gue gak kenal
juga kan sama anaknya.”
“Jadi
lo gak mau nemenin gue?” rayu dia lagi.
“YAUDAH
DEH MAU!” jawab gue gembira. Gembira karena menemani Anggi.
“Oke
acaranya besok malem, Nic. Pake baju
bebas rapih ya. Nanti lo jemput gue dirumah gue dan gue kasih tau jalannya
kemana oke? Makasih Nico.” Sambungan telpon pun dia putus sebelum gue
mengiyakan pertanyaannya yang terakhir. Bodohnya gue yang terkena bujuk rayuan
mautnya. Gue mesti dateng ke acara ulang tahun si Budi.
“Lo dimana, Lang?” chat gue ke dia. Gue butuh konsultan
untuk masalah ini. Chat gue ke Gilang
pun belum dibaca olehnya. Apa lah yang gue tunggu, gue berpaling ke Ipan.
“Pan, lo dimana?” chat gue ke dia.
“Gue mau kerumah lo nih, Nic. Gue mau
cerita. Gue mau ke Ricko cuma dianya lagi keluar. Boleh ya?” jawab dia.
“Yaudahdeh, ntar tunggu diteras ya,
gue juga mau curhat sama lo.”
“Oke, otw.” Oke. Ipan bakal datang.
Akhirnya ada seseorang yang mungkin akan mendengar cerita gue, tanpa harus
memahaminya. Gue menunggu dia sembari mandi, dan makan. Karena gue bau, dan
laper. Gak lama setelah gue selesai mandi, Ipan datang. Kita duduk di teras.
“PAN GUE DIAJAK PERGI SAMA ANGGI KE
ULANG TAHUNNYA SI BOROKOKOK!”
“Hah? Borokokok?”
“Gila yah dia ngapain coba ngajak gue
ke ulang tahun si kampret!”
“Hah? Si kampret?”
“Trus abis itu gue iyain aja lagi
ajakannya. Gue mesti gimana? Udah terlanjur iya…”
“Bentar-bentar… borokokok itu siapa?
dan kampret itu siapa?”
“Itu panggilan gue buat Budi. Mantannya dia dulu.”
“Itu panggilan gue buat Budi. Mantannya dia dulu.”
“Jadi mantannya dia ulang tahun dan lo diajak ke ulang tahunnya sama mantannya itu?
“Hah?”
“Hah apaan sih!”
“Intinya Anggi ngajak gue ke ulang
tahunnya si Budi, Pan.”
“Ikut aja sih Nic, gapapa.” jawab
Ipan santai.
“Lo gak ngelarang-larang gue buat
ikut atau apakek yang bikin gue batal ikut, Pan?”
“Enggak. Itu kan cuma ulang tahun.”
jawab dia lagi.
“Oke, yaudahlah gue ikutin kata
Anggi.” jawab gue. Gue juga berpikir kalo itu cuma acara ulang tahun aja. Oke
deh gue dateng ke ulang tahunnya Budi. Asal gue sama Anggi. Udah. Gue pun
ngelanjutin pembicaraan…
“Terus lo katanya mau cerita?” tanya
gue.
“Enggak ada sebenernya. Gue cuma
kesepian tadi.”
“Hah? Ya udah kedalem ajalah kita
main PS.” ajak gue dan Ipan mengiyakan.
Main PS dibenak gue sama dengan lupa
waktu. Apa lagi mainnya sama teman. Untung aja mainnya dirumah. Kalo dirental,
bisa-bisa gue tidur ngemper depan toko orang setiap hari.
“Pan, coba lo pikir deh, masa gue
mesti dateng sih?” tanya gue dengan mata terfokus sama layar tv.
“Ya gak mesti aja sih lo ikut, Nic.
Tapi kan masalahnya lo tadi udah setuju sama Anggi-nya, gak enak juga kan
tiba-tiba lo bilang gak jadi ikut sama dianya. Lo juga ngapain coba. Kalo gak
mau ya gak usah ngeiyain. Kan kalo gini yang pusing cuma lo doang” jawab dia
dengan mata yang terfokus pada layar yang sama.
“Ya mau gimana lagi, Pan.” jawab gue.
“Gapapa, Nic. Dateng aja.” Balas
Ipan.
***
Besoknya
adalah hari ini. Berat. Untungnya hari ini hari Sabtu. Hanya untuk hari ini gue
gak kemana-mana. Antara senang dan malas. Bisa ketemuan lagi sama Anggi,
walaupun itu juga pergi ke acara ulang tahun mantannya, Budi.
Kemeja
putih-biru corak kotak-kotak, jeans, dan Converse
terpakai rapih. Gue minta izin sama Nyokap, bilangnya mau ke ulang tahunnya temen.
Nyokap memperbolehkan, asal pulangnya gak terlalu malem. Seketika itu gue
langsung pergi kerumah Anggi. Padahal, dia-nya sendiri belum kasih tahu gue
kalau dia minta dijemput.
“Nggi,
gue udah didepan rumah nih.” chat gue ke dia. Gue parkir motor gue tepat
didepan garasi mobil depan rumahnya. Berdiri lalu membunyikan bel rumahnya. Bel
gue tekan terus-menerus hingga delapan kali. Gak lama, malah Nyokap-nya Anggi
yang keluar…
“HEEEHHH
BRISIKKK JANGAN DIPENCET-PENCET TERUUUSSSS BELNYAAAAA!!! Oalaaah, Tante kira
siapa. Masuk nak Nico… duh udah lama gak main-main lagi kesini..” sapa
Nyokapnya ke gue.
“Maaf
tante malem-malem berisik hehe, assalamualaikum..” jawab gue.
“Waalaikumsalam..”
jawab si Tante. Gue disuruh masuk kerumah sama tuan rumah. Dulu, gue sering
main kerumah Anggi. Mama-nya pun sudah seperti Mama kedua gue. Gak ada rasa
canggung.
“Eh
kamu kok jarang main kesini? Mentang-mentang udah beda sekolahan sama Anggi,
jadi malah si Budi yang sering kesini. Tapi ya sama aja kaya kamu, dia udah
jarang kesini juga.” ucap Nyokap-nya Anggi. Gila. Si Tante menyamakan gue
dengan Budi.
“Bukannya
gitu tante… kan aku juga sibuk-sibuk… trus juga kan pas itu… Anggi-nya kan
pacaran sama Bu…”
“Terus
kalo mereka kaya gitu, kamu putus silaturahmi gitu sama Tante?” potong si
Tante, sambil ngomong skakmat dihatinya. Gue bingung. Dengan gugup pun gue
jawab.
“Ya
bukannya gitu Tante.. kan.. mereka kan….”
“Eh
Nico, udah nyampe ternyata hehe” cengenges Anggi yang baru turun dari lantai
atas sekaligus menjadi pengalih topik. Syukurlah. Anggi pun menghampiri kita.
“Ma,
aku sama Nico mau ke ulang tahunnya Budi, pulangnya juga gak lama kok. Kalo
Mama ngantuk, pintu depan jangan dikunci ya Ma soalnya aku masih mau tidur
dikamar.” izin Anggi sambil menyium tangan Nyokap-nya.
“Itu maksudnya dia gak mau tidur
diluar lagi Tan… hehehe” iseng gue sambil pamitan.
“Iya-iya kamu gak Mama kunciin lagi.”
“Eheheee yaudah yah Ma,
Assalamualaikum!!”
“Pergi dulu, Tan!”
“Hati-hati ya! Waalaikumsalam.”
Setelah
keluar rumah, gue bonceng Anggi dengan motor gue. Sengaja gue gak ngebut,
santai aja. Gue tanya Anggi tentang rumanhya Budi. Dia menunjukkan kalo
rumahnya Budi itu gak terlalu jauh dari SMP yang dulu pernah kita singgahi.
“Nggi,
ini acara ultahnya lo diundang langsung sama Budi apa gimana?” tanya gue
“Dia
sendiri Nic yang ngajak gue. Katanya sih ada yang spesial buat gue nanti…”
“ADA
YANG SPESIAL BUAT ELOOOO???”
“Iya,
dia sendiri yang bilang…”
“Terus
lo kenapa ngajak gueee..”
“Yaa…
emangnya kenapa?... lagian juga misalkan gak ada yang gue kenal gimana dong?”
“Yaa…
kenalan aja sama yang lain.” sewot gue.
Refleks
kepala gue liat spion kiri, yang lansung menuju tepat kearah muka dia. Dia
senyum-senyum. Gue balas dengan menjulurkan lidah tanda mengejek. Dijalan,
sebenernya kita masih ngobrol-ngobrol tentang sesuatu yang hanya kita saja yang
mengerti. Entah mengapa hati gue begitu tenang.
Gak
terasa jalan yang kita susuri berhenti di suatu rumah mewah. Gue yakin, Budi
itu 12 bersaudara. Mana mungkin rumah sebesar ini, cuma diisi sama keluarga
kecil. Anggi pun melepas helm, digantung di spion. Dengan pede-nya, dia masuk
melewati gerbang yang memang sudah terbuka. Melihat-lihat, lalu memberi tanda
ke gue bahwa ini adalah rumah yang benar. Gue pun memarkir motor gue ditempat
dimana motor teman-temannya Budi berkumpul.
Gue
turun dari motor, melepas helm. Gue pun menyusul Anggi kedalam. Waw. Ramai.
Lampu-lampu berwarna jingga yang digantung-gantung oleh tali-tali pengikatnya,
bikin gue kagum. Bagus banget suasana-nya. Keren lah. Terdengar juga lagu dari audio speaker miliknya, Begin Again – Taylor Swift.
Gue
yang terbawa suasana sekitar, baru sadar kalau Anggi gak ada disamping gue.
Gimana sih. Kan dia minta ditemenin, dia sendiri gak ada. Terpaksa gue
keliling-keliling dipekarangan rumah yang super luas itu cuma buat cari dia.
Gak tau kenapa, gue gak ketemu. Tapi, Ricko tiba-tiba muncul.
“Lah
kok ada lo disini?” tanya Ricko.
“Ini
gue diundang Anggi, Ko. Lah lo sendiri?” tanya gue balik.
“Gue
diundang sama yang gelar hajat, Nic. Tau gitu kita berangkat bareng. Eh nanti
gue balik sama lo ya, gue tadi naik angkot soalnya.”
“Gue
tadi kesini ngebonceng Anggi naik motor, Ko.”
“Yah
yaudahlah. Bilang sama gue kalo dia gak jadi balik sama lo nanti.”
“Iya
bang.” jawab gue. Ricko adalah temen seperhidupan gue. Dari sekolah dasar
sampai menengah, gue selalu bersamanya. Rumah kita juga dulu sebelah-belahan.
Ayah, Ibu, dan Adik kita sudah saling kenal mengenal dengan baik. Hubungan
sembilan tahun itu sirna saat dia memilih sekolah menengah atas yang berbeda
sama gue.
Selanjutnya
gue gak mencari Anggi lagi. Dipikiran gue, dia mungkin sudah asik dengan
teman-temannya. Ya namanya juga cewek. Gue keliling-keliling sama Ricko, kita
cuma ngobrol-ngobrol aja. Karena Ricko tahu, gue disini gak punya temen. Tipe
kawan yang bisa mengerti akan keadaan sekitar.
“Eh
Nic, lo mau ikut gue gak ke Budi? Gue belom ngucapin dia ulang tahun..”
ajaknya.
“Ya…
boleh aja lah..” setuju gue. Kita pun ketempat dimana para teman-temannya Budi
berkumpul yang memang, ada Budi disana. Ricko yang memang adalah temannya Budi,
pede aja masuk ke gerombolan tersebut.
“Happy birthday ya, birthday-boy! Sukses terus ya, Bud. Lo mau doa apa aja, sini gue
aminin. Hahahahah.” Ucap Ricko sambil merjabat tangan dengan Budi.
“Eh
makasih ya Ric, lo jangan langsung pulang ya, makan-makan aja dulu tuh disana.”
jawab Budi sambil menunjuk meja kateringan.
“Siap!”
jawab Ricko. Gue pun merasa pede aja.
“Selamat
ulang tahunnya ya!” ucap gue ke Budi untuk pertama kalinya.
“Ohiya,
makasih ya. Lo juga sama, jangan pulang dulu.” Jawab Budi, gue mengangguk.
“Bud,
gue makan dulu ya. Ayo, Nic.” Ajak Ricko, Budi mengangguk. Ya gue jelas
ngikutin Ricko. Kita kearah meja catering-an.
Pudding cokelat adalah makanan
kesukaan kita semasa kecil. Gue ambil dua potong besar dan Ricko, rakusnya dia
ambil tiga potongan besar, 2 piring.
Perginya
Anggi, sama sekali gak buat gue kepikiran untuk kesekian kalinya. Lepas aja.
Gue ngelupain anak orang secara gak sengaja. Gue cuma asik sama apa yang
diobrolin oleh Ricko. Pas banget dengan pudding
gue habis..
“HAPPYYY
BIRTHDAAAYYY BUDIIII!!!”
“HAPPYYY
BIRTHDAAAYYY BUDIIII!!!”
“HAPPYYY
BIRTHDAAAYYY!!! HAPPY BIRTHDAAAYYY!!!”
Segerombolan
remaja datang mebawa kue super mewah buat Budi dari arah belakang. Gue
terkesima, Ricko pun sama. Karena berdua dari kita belum pernah sama sekalipun,
dikasih kue super. Budi pun terkejut, teman-teman disekitar rumah pun telah
tertarik perhatiannya oleh kejadian ini.
Jantung
gue berhenti sejenak, setelah melihat Anggi yang datang membawa kue tadi.
Maklum, perhatian gue tadi lebih condong ke kue, bukan si pembawa. Gue shock dengan beberapa alasan:
1.
Apa Anggi gak tahu kalau gue masih suka sama dia?
2.
Apa Anggi masih suka sama Budi?
3.
Apa ini yang dimaksud Anggi, menyuruh gue datang kesini?
4.
Kenapa dia melakukan ini?
5.
Kenapa Ricko nambah pudding lagi?
Gue
cuman bisa liat dari kejauhan, apa yang mereka lakukan. Budi pun langsung
menemui Anggi. Suara mereka ngobrol pun gak kedengeran dari tempat catering-an. Dari gerak-gerik bibir
Budi, jelas dia mengucapkan terima kasih ke Anggi. Anggi pun mengangguk lucu.
Salah
satu dari kumpulan remaja berteriak memakai toa, sebut saja Ratih, bahwa lebih
baik kuenya dipotong ditempat, dan menyuruh semua yang ada dipekarangan rumah
untuk mendekat. Suasana sekitar? jelas ceria. Mendekatlah semua anak ketempat
Budi berdiri.
“Makasih
ya kalian, gue gak tau kalo gue bakal dikasih surprise yang kaya gini.” Ucap Budi penuh suka cita. Ya siapa juga
yang gak senang kalo dikasih kue sebesar itu.
“Eheeemm…”
ucap Ratih, pake toa.
“Temen-temen,
Budi mau ngomong sesuatu tuh ke Anggi..” sindir Ratih ke Budi. Kita-kita yang
awam, jelas kebingungan. Perasaan gue seketika gak enak. Ricko? Dia juga ikutan
bingung. Dan perasaan gue terbukti benar dikala Budi menyampaikannya dengan
percaya diri.
“Anggi,
gue sebenernya masih ada rasa sama lo. Gue juga sebenernya masih pengen sama lo
lagi. Lo mau kan, balikan sama gue?” ucap Budi jelas. Disitu gue merasa mati.
Mati banget. Anggi? Dia mengangguk dan tersenyum lebar. Gak ada kalimat
persetujuan yang keluar dari Anggi. Haaaah. Mau apa gue?
“CIIIIYYYYYYEEEEEEEE…………..”
“AAAAWWWWWWW………….”
begitulah bunyi yang terdengar di pekarangan rumah Budi. Gue cuma
senyum-senyum. Kenapa coba, gue harus merasakan ini untuk kedua kalinya.
Tatapan gue kosong. Entah apa yang gue lihat tadi. Ratih pun mengajak Budi
memotong kue ulang tahunnya. Budi pun mengajak Anggi. Anggi pun dengan suka
hati, mau.
“CIIIIYYYYYYEEEEEEEE…………..”
“AAAAWWWWWWW………….”
begitulah bunyi yang terdengar di pekarangan rumah Budi disaat mereka potong
kue bersama. Gue diam. Budi dengan ide kreatifnya ingin menyuapi Aanggi dengan
kue yang dia potong tadi. Potongan kecil yang diambil Budi ditolak begitu saja
oleh Anggi. Menggeleng dan matanya tertuju kepada gue. gue pun membuang
pandangan gue, pura-pura main hape.
“Kalian
semua, makasih banget ya. Gue gak tau mesti bilang apa ke kalian. Kue ini gak
mungkin gue kasih satu-satu, jadi ambil sendiri ya heheee. Makasih ya semua.”
Ucap Budi. Dia pun pergi ke tempat dia nongkrong tadi. Dia coba mengajak Anggi,
dengan merangkulnya. Lagi-lagi, Anggi menolak dan dia pun mengucapkan…
“Jangan
Bud, nanti ada yang cemburu.” Jelas banget. Gue kaget. Setelah Anggi
mengeluarkan kalimat tadi, dia pun mengikuti Budi tanpa harus dirangkul. Kita
yang berkumpul pun berpencar.
Gue
membalikkan badan gue dan menuju ke meja catering.
Bersyukur gue masih bisa melihat pudding
beberapa potong. Gak ambil pikir, gue ambil semuanya. Ricko pun mendatangi gue
dengan 3 potongan kue ulang tahun Budi.
“Gue
liat lo sendirian aja, Nic.” canda dia.
“Makasih
yam au nemenin gue disaat gue tiba-tiba sendiri, Ric.” jawab gue. Ricko pasang
muka aneh saat mendengar apa jawaban gue. Dia pun melihat mata gue, gue membuang
pandang. Setelah dia melihat gue, dia melihat Budi dan Anggi beserta
kawanannya.
“Oooooooo……
jadi dia alasan lo jadi “tiba-tiba sendiri” itu?” tanya dia sambil menunjuk
kearah Anggi.” Gue pun menundukkan pandang, membuang nafas. Ricko tahu kalau gue
dulu suka sama Anggi. Dia pun melanjutkan sambil makan.
“Salah
siapa coba, kalo masih ngarepin yang udah lewat?” tanya dia ketawa. Pudding yang tadi gue ambil dan belum
tersentuh, gue taruh diatas meja.
“Udah
lah, Ric. Jangan dibahas ya plis.” kata gue memohon. Dia pun melanjutkan makan
kue. Hape gue berdering tiba-tiba, chat dari Anggi,” Nic, nanti lo pulang
sendiri ya. Gue nanti dianter pulang sama Budi, oke?”. Chat tadi gak gue bales,
seketika gue langsung lihat Anggi. Gak sengaja, dia melihat gue balik. Gue pun
mengangguk dan tersenyum manis kearahnya. Dia melambaikan tangan, dan setelah
itu gue membuang pandang.
“Ohiya,
Nic. Ntar gue balik bareng lo ya? Baliknya pas kue ini abis. Eh ini pudding lo tadi, gue abisin juga ya?”
pinta Ricko, gue mengiyakan dengan anggukan. Kue dan pudding yang dia makan telah habis. Kita pun pulang. Gue antar
Ricko kerumahnya, dan akhirnya gue sampai rumah.
Entah kenapa gue malas untuk ganti
baju sebelum tidur. Memangnya harus dua kali gue merasakan hal yang sama? Kenapa
dengan orang sama? Dengan perasaan yang sama? Entahlah, simpan saja semua ini
seperti misteri yang mudah-mudahan, tidak akan pernah muncul lagi dikemudian
hari.













Lemah lah wkwkwkw
BalasHapusGw bingung sama karakternye sumveh, proceed ma nigga 😏😎
BalasHapus